Krisis Ekonomi Turki, Jerman Soroti Independensi Bank Sentral

Presiden Turki Tayyip Erdogan
Sumber :
  • REUTERS/Alkis Konstantinidis

VIVA – Kanselir Jerman Angela Merkel mendesak Pemerintahan Turki yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk menjamin independensi Bank Sentral negara tersebut dalam mengelola kebijakan moneternya.

img_title OJK: Ekonomi RI Tumbuh 5,3 Persen di 2025 Meski Risiko Global Masih Mengintai

Hal itu disampaikannya sebagai bentuk perhatian Jerman terhadap gejolak perekonomian Turki. Sebab,  kestabilan dan kesejahteraan ekonomi Turki merupakan bagian dari kepentingan Jerman dan negara Eropa lainnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Tidak ada yang berkepentingan dalam destabilisasi ekonomi di Turki. Tapi semuanya harus memastikan bagaimana bank sentral itu independen. Jerman ingin melihat Turki yang makmur secara ekonomi. Ini demi kepentingan kami juga," sebagaimana dilansir Reuters, Selasa, 14 Agustus 2018.

img_title Prabowo: Kontribusi Freeport dalam Perekonomian Indonesia Sangat Besar

Independensi bank sentral pada dasarnya juga menjadi perhatian pemerintah Indonesia terhadap krisis yang terjadi di Turki. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro juga sempat menyinggung lemahnya independensi Bank Sentral Turki yang semakin memperburuk krisis keuangan di Turki.

"Karena Turki itu kan ada unsur intervensi dari pemerintah terhadap bank sentral. Sedangkan kita kan sudah relatively independen. Jadi ini yang akan memberikan perbedaan yang luar biasa," tambahnya.

img_title Aburizal Bakrie Sebut Dunia Usaha Sekarang Banyak Kepentingan Politik

Sebagaimana di beritakan sebelumnya, krisis keuangan yang terjadi di Turki tidak hanya diperburuk oleh kebijakan pemerintahan Amerika Serikat yang menambahkan pengenaan tarif baja dan alumunium terhadap Turki.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun, para investor global turut menyroti kebijakan Presdien Erdogan yang terus mengintervensi Bank Sentral Turki untuk tetap menahan suku bunga acuannya demi menunjang pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Meskipun angka inflasi di negara tersebut sangat tinggi, menyentuh 15,85 persen per Juli 2018 akibat terus melemahnya mata uang lira terhadap dolar AS.

Erdogan bahkan mengatakan, suku bunga acuan yang tinggi merupakan salah satu bentuk instrumen dari eksploitasi. Oleh karenanya dia mengeaskan, Turki tidak akan jatuh ke dalam jebakan untuk manaikkan suku bungan acuan bank sentralnya yang saat ini bertengger diangka 17,75 persen.

Ketua DPR RI Puan Maharani (kanan) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat

Puan Sebut Konflik AS-Iran Berpotensi Ganggu Stabilitas Ekonomi RI

Ketua DPR RI Puan Maharani mewanti-wanti konflik yang terjadi di Timur Tengah, antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global

img_title
VIVA.co.id
10 Maret 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut