PLTA Batangtoru Butuh Hutan Lestari
- VIVA/Muhamad Solihin
Sementara itu, Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Utara, juga dinilai memiliki komitmen kuat untuk perlindungan orangutan. “Saya terima laporan, bupati Tapanuli Selatan, sangat aktif untuk melindungi orangutan,” kata Wiratno.
Populasi Rendah
Saat ini, tim pemantauan Direktorat Jenderal KSDAE KLHK terus memantau keberadaan orangutan di wilayah blok selatan kawasan Batangtoru. Dalam pemantauan terakhir, ditemukan beberapa sarang orangutan yang berjarak tujuh kilometer dari rencana lokasi power house PLTA Batangtoru.
Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BP2LHK) Aek Nauli, Ditjen KSDAE KLHK, Wanda Kuswanda menyatakan, habitat keberadaan orangutan tapanuli di kawasan Batangtoru tersebar pada tiga blok terpisah, yakni blok barat, timur, dan selatan.
Luas keseluruhan kawasan Batangtoru mencapai 163,846 hektare. Populasi orangutan terbanyak berada di blok barat, yang mengarah ke Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara.
Berikutnya, berada di blok timur, yakni wilayah cagar alam Sipirok di Tapanuli Selatan, dan yang paling sedikit berada di blok selatan, terutama cagar alam Sibual-buali.
“Berdasarkan penelitian terakhir, kepadatan orangutan di blok selatan ini, memang terbilang rendah. Hanya sekitar 0,41 individu per kilometer persegi,” kata Wanda.
Di blok lain, kata Wanda, kepadatan populasi orangutan bisa mencapai 0,7 hingga 0,8 per individu per kilometer persegi. Hal ini bergantung pada aspek ideal untuk kepentingan habitat orangutan itu sendiri.
Kawasan blok selatan yang minim jumlah individu orangutan itu berbatasan dengan Areal Penggunaan Lain (APL), yang merupakan lahan perkebunan rakyat. Masyarakat menanami lahannya dengan pohon karet, petai, dan durian.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batangtoru yang dalam proses pembangunan, juga berada di kawasan APL ini.