Diagnosa Kepala Bappenas Soal Ekonomi RI Stagnan

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan

VIVA – Pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak beberapa tahun terakhir terus bertengger di kisaran lima persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada kuartal IV 2015 pertumbuhan ekonomi sebesar 5,15 persen. Sementara saat ini, di kuartal III 2018 hanya sebesar 5,17 persen.

img_title Bappenas Pastikan Dana Pemerintah Masih Aman Hadapi Dampak El Nino, Fokus pada Penanganan Mendesak

Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan, stagnannya pertumbuhan ekonomi itu utamanya disebabkan karena daya produktivitas Indonesia yang sangat rendah. Terutama, disebabkan karena tidak signifikannya transformasi struktural yang tercermin dari kapabilitas tenaga kerja.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Lebih dari 30 persen tenaga kerja kita di sektor agrikultur," kata dia dalam dalam keynote speech yang dibacakan oleh Staf Ahlinya, Bambang Priyambodo di Universitas Indonesia, Depok, Senin 12 November 2018.

img_title Bappenas Ungkap Cadangan Beras Pemerintah Tembus 5,19 Juta Ton, Lampaui Target Semester I 2026

Akibat hal itu, lanjut dia, selama 40 tahun lebih hingga saat ini ekspor Indonesia terus didominasi oleh produk-produk komoditas yang produktivitasnya tidak secepat industri manufaktur. Karena buruknya kinerja tersebut, memiliki dampak yang jelas terhadap kinerja perdagangan internasional Indonesia.

"Pada 1970-an, Malaysia dan Thailand juga mengandalkan komoditas dalam ekspor mereka. Namun, sekarang, bagian terbesar dari ekspor mereka adalah elektronik yang dikerjakan oleh blue color," katanya.

img_title Alarm dari Bappenas! Kerugian Ekonomi Akibat Perubahan Iklim Diprediksi Tembus Rp2.005 Triliun

Bambang menilai, buruknya transformasi struktural tersebut lebih disebabkan oleh tiga hal, yaitu investasi di sektor infrastruktur yang masih rendah, investasi di sektor permesinan dan equipment maupun investasi asing yang jauh tertinggal dari negara-negara lain, serta minimnya investasi di human capital.

"Tumpang tindih peraturan dan hambatan birokrasi, kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja yang rendah, Infrastruktur yang tidak memadai, intermediation keuangan yang rendah dan pasar keuangan yang dangkal, hingga pendapatan pajak yang rendah dan kualitas pengeluaran," tegasnya.

Kolaborasi Bangun Bangsa Jadi Langkah Nyata Menuju Indonesia Emas 2045

Kolaborasi Bangun Bangsa Jadi Langkah Nyata Menuju Indonesia Emas 2045

Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan pembangunan Indonesia harus inklusif dan berkelanjutan melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

img_title
VIVA.co.id
6 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut