Lulusan SMK Belum Tentu Bisa Langsung Kerja

Sejumlah siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Senin, 25 Maret 2019.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

VIVA – Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan atau SMK belum tentu 100 persen diterima kerja oleh industri. Meskipun, saat ini pemerintah sedang mendorong perbaikan kurikulum hingga revitalisasi SMK. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhajir Effendi.

img_title 1.653 Satuan Pendidikan Dikeluarkan dari Daftar Penerima MBG, Mayoritas Sekolah Swasta Internasional

"Kalau 100 persen tidak, ya. Kita upayakan meningkatkan peningkatan daya serap dan yang lebih penting dia meningkatkan produktivitas. Orang produktif, belum tentu bekerja produktif. Masalah kita menghadapi era bonus demografi, ledakan orang usia produktif, tapi mereka kan belum tentu bekerja produktif," tutur dia, seperti dikutip dari VIVAnews.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Muhajir juga menjelaskan, persoalan terserap tidaknya lulusan SMK oleh industri, merupakan hasil jerih payah setiap individu. Baginya, pemerintah hanya bisa memfasilitasi supaya seluruh program perbaikan sumber daya manusia yang dicanangkan Presiden Jokowi hingga 2025, sesuai kebutuhan industri.

img_title Purbaya Pastikan Anggaran Masih Cukup Hadapi Lonjakan Harga Minyak Dunia di Atas US$100 Per Barel

Selain itu, lanjut dia, dunia pendidikan memang tidak didesain secara khusus untuk memberikan jaminan bahwa siswa didiknya langsung diterima oleh dunia kerja. Dunia kerja, biasanya hanya menerima tenaga kerja yang telah terlatih dengan keahlian tertentu.

"Secara teoritik, kita tidak mungkin menyediakan tenaga kerja yang siap pakai dari sekolah, karena itu ada namanya pre-service training. Jadi, pelatihan sebelum memasuki dunia kerja," tegasnya.

img_title Harga Minyak Dunia Bisa Melonjak Imbas Ketidakpastian Geopolitik, Begini Strategi Purbaya Atur Anggaran

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipublikasikan pada Februari 2019, memang mengungkapkan bahwa lulusan SMK menjadi yang terbanyak menyumbang pengangguran.

Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang berasal dari SMK mencapai 8,63 persen, diikuti oleh pendidikan Diploma I/II/III sebanyak 6,89 persen, serta Sekolah Menengah Atas (SMA) 6,78 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, yang paling minim menyumbang TPT adalah masyarakat dengan tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) yang hanya 2,65 persen, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 5,04 persen dan lulusan Universitas sebanyak 6,24 persen.

"Tapi kita sekarang, berusaha untuk membuat terobosan, agar anak SMK bisa masuk ke dunia kerja dengan cara kerja sama dengan industri, pemagangan, karena itu sekarang diupayakan anak-anak SMK belajar 60-70 persen di dunia industri. Tidak di kelas, tetapi praktik di lapangan," tutur dia.

Mendikdasmen Abdul Muti

Menteri Abdul Mu'ti Dorong Pembelajaran Siswa SMK Tak Berhenti Saat PKL

Mendikdasmen Abdul Mu'ti menekankan, pengalaman siswa selama berada di dunia usaha dan dunia industri justru harus menjadi bagian dari proses pembelajaran.

img_title
VIVA.co.id
15 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut