Akhir Juni 2020, Utang Luar Negeri RI Tembus Rp6.006 Triliun

Ilustrasi tumpukan uang miliaran rupiah
Sumber :
  • U-Report

VIVA – Bank Indonesia melaporkan bahwa posisi utang luar negeri atau ULN Indonesia di akhir kuartal II-2020, tercatat sebesar US$408,6 miliar atau setara Rp6.006 triliun (kurs Rp14.700 per dolar AS). Utang itu terdiri dari ULN sektor publik sebesar US$199,3 miliar, dan ULN sektor swasta sebesar US$209,3 miliar.

img_title Rupiah Melemah ke 17.156 Dibayangi Lonjakan Utang Luar Negeri & Kondisi Fiskal RI

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.949 Triliun

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"ULN Indonesia tersebut tumbuh 5,0 persen secara year-on-year (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 0,6 persen (yoy)," demikian laporan Bank Indonesia seperti dikutip dari laman bi.go.id, Jumat, 14 Agustus 2020.

img_title ULN Sektor Publik Melambat, BI: Utang Luar Negeri RI November 2025 Turun

Kenaikan itu disebabkan oleh transaksi penarikan neto ULN, baik ULN Pemerintah maupun swasta. Selain itu, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, juga berkontribusi pada peningkatan nilai ULN berdenominasi rupiah.

ULN Pemerintah mencatat peningkatan dibandingkan kuartal sebelumnya. Posisi ULN Pemerintah pada akhir kuartal II-2020 tercatat sebesar US$196,5 miliar, atau tumbuh 2,1 persen setelah pada kuartal sebelumnya mengalami kontraksi 3,6 persen.

img_title Rupiah Melemah Usai Laporan Perlambatan Utang Luar Negeri RI di Oktober 2025

Peningkatan ULN Pemerintah terjadi seiring penerbitan Sukuk Global untuk memenuhi target pembiayaan, termasuk satu seri Green Sukuk yang mendukung pembiayaan perubahan iklim. 

Selain itu, arus masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) yang masih cukup tinggi, mengindikasikan persepsi yang positif terhadap pengelolaan kebijakan makroekonomi dalam memitigasi dampak pandemi COVID-19, menjaga stabilitas, dan mendorong pemulihan ekonomi.

ULN Pemerintah tetap dikelola secara hati-hati dan akuntabel, untuk mendukung belanja prioritas yang di antaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,5 persen dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,4 persen), sektor jasa pendidikan (16,3 persen), sektor jasa keuangan dan asuransi (12,4 persen), serta sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,7 persen).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara, untuk ULN swasta juga tercatat meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya. ULN swasta pada akhir kuartal II-2020 tumbuh 8,2 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kuartal sebelumnya sebesar 4,7 persen (yoy).

Perkembangan ini disebabkan oleh meningkatnya pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan, sedangkan ULN lembaga keuangan tercatat kontraksi. Pada akhir kuartal II 2020, ULN perusahaan bukan lembaga keuangan terakselerasi dari 7 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya menjadi 11,4 persen (yoy). Sedangkan ULN lembaga keuangan terkontraksi 1,7 persen (yoy), lebih rendah dari kontraksi 2,4 persen (yoy) pada kuartal sebelumnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut