Genjot Kualitas Developer Muda, BTN Gandeng Iluni UI
- vivanews/Andry Daud
VIVA – Sektor properti disebut masih bisa bertahan di tengah krisis akibat pandemi virus Corona atau COVID-19 saat ini. Meski sempat terkontraksi pada April dan Mei, dua bulan setelahnya permintaan akan kebutuhan rumah mulai menunjukkan perbaikan.
Seiring dengan mulai naiknya permintaan akan perumahan, harus dipastikan sumber daya manusia (SDM), khususnya para pengembang atau developer muda juga siap memenuhi kebutuhan itu.
Hal tersebutlah yang menjadi dasar PT Bank Tabungan Negara Tbk dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI), menandatangani nota kesepahaman. Dengan kerja sama ini, kedua pihak antara lain akan memberikan pelatihan bagi alumni UI yang sudah berkecimpung sebagai pengembang sektor properti, maupun baru akan terjun ke dalam bidang bisnis tersebut.
Baca juga:Â Luhut Minta Sri Mulyani Kasih Duit Tambahan ke TNI AL dan Bakamla
Penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) ini, dilakukan langsung oleh Direktur Utama BTN, Pahala Nugraha Mansury dan Ketua Umum Iluni UI, Andre Rahardian. Penandatanganan MoU diselenggarakan secara virtual.
"Dengan program ini, tentunya kita dapat melahirkan para developer untuk memiliki skill yang baik untuk menjadi pengembang yang sukses dan tentunya memiliki etika kerja dan integritas yang baik," ujar Pahala dalam sambutannya di acara pembukaan Ruang Temu Property Developer di Jakarta, dikutip Kamis 24 September 2020.
Pahala memaparkan, pelatihan usaha pengembang properti penting karena sektor ini di Indonesia masih memiliki prospek untuk berkembang. Di antara negara-negara ASEAN misalnya, rasio mortgage atau pembiayaan perumahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia relatif masih rendah.Â
Yakni, dia melanjutkan, ada di posisi tiga persen atau masih di bawah Filipina yang 3,8 persen terhadap PDB. Posisi itu bahkan masih tertinggal jauh dari Thailand 22,3 persen dan Malaysia 38,4 persen.
Kondisi tersebut sejalan dengan masih tingginya backlog perumahan di Indonesia, yang mencapai 11,4 juta orang berdasarkan kepemilikan rumah, dan berdasarkan hunian sebanyak 7,6 juta orang. Dengan potensi besar itu tak mengherankan jika pada kuartal II-2020, ketika pertumbuhan ekonomi minus 5,32 persen, sektor properti masih tumbuh positif 2,5 persen.