PGN Raih Baa3 dari Moody's, Begini Dampaknya ke Kinerja PGAS

Petugas PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) mengalirkan gas bumi CNG (Compressed Natural Gas) untuk industri di PRS (Pressure Reducing Station) Tambak Aji Semarang, Jawa Tengah.
Sumber :
  • VIVA/Dhana Kencana

VIVA – PT Perusahaan Gas Negara Tbk atau PGN (PGAS) dinilai memiliki kekuatan finansial yang tetap kokoh di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang akibat COVID-19. Hal itu tercermin dari peringkat utang perseroan yang positif.

img_title Semester I-2026, Kinerja Ekspor Sido Muncul Naik 28 Persen

Seperti diketahui Moody's Investors Service pada Kamis 17 Juni 2021 lalu merilis peringkat terhadap status PGN dengan prospek stabil dan peringkat utang senior tanpa jaminan Baa2. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Vice President and Senior Credit Officer Moody's, Abhishek Tyagi, mengatakan peringkat itu mencerminkan profil keuangan PGN yang solid dan likuiditas yang kuat, yang seharusnya mampu menyerap dampak dari penurunan permintaan gas akibat pandemi dan penurunan margin distribusi.

img_title Buka Akses Lebih Luas ke Investor Global, EMAS Perpotensi Masuk GDX

Menanggapi hal tersebut, Kepala Riset PT Koneksi Kapital, Marolop Alfred Nainggolan menilai level peringkat Moody's untuk PGN yang dipertahankan di level Baa2, menunjukkan perseroan mampu mempertahankan posisi keuangan dan likuiditas yang baik. Sementara pandemi telah berdampak berat terhadap ekonomi Indonesia, termasuk pada konsumen gas yang menjadi pasar PGN. 

"Pada Juni 2020, Moody’s juga memberikan rating yang sama, Baa2. Artinya PGN mampu menjaga performanya di tengah tekanan ekonomi yang kuat dan realisasi penurunan harga gas menjadi US$6 per mmbtu yang memangkas margin perseroan," ujar Marolop di Jakarta, Selasa 22 Juni 2021.

img_title Pertama Kali Sejak Pandemo Covid-19, China Gagal Capai Target Pertumbuhan Ekonomi

Ia mengatakan, harga gas US$6 menjadi salah satu tantangan utama PGN saat ini. Pasalnya tujuh kelompok industri yang mendapat previlege harga dari pemerintah itu mengkonsumsi 60-70 persen dari total penjualan gas PGN. 

Itu sebabnya, lanjut Marolop, jika program subsidi harga itu tidak optimal, seharusnya pemerintah melakukan evaluasi. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Dengan program harga US$6 per mmbtu mestinya tujuh sektor itu bisa memberi dampak ekonomi yang lebih besar. Di tengah pandemi pemerintah butuh lapangan kerja, pajak dan motor pertumbuhan ekonomi dari tujuh sektor penerima subsidi gas itu," kata Marolop. 

Sebelumnya, Abhisek menjelaskan, peringkat Baa2 PGN mencerminkan (1) profil kredit standalone (mandiri), dan (2) peningkatan satu tingkat, berdasarkan ekspektasi Moody's bahwa perusahaan akan menerima dukungan dari Pemerintah Indonesia (Baa2 stabil) dan kemungkinan melalui Pertamina saat dibutuhkan. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut