Pertumbuhan Ekonomi 5,5 Persen pada 2022 Dapat Tercapai Jika...

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR. (foto ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Reno Esnir/wsj.

VIVA – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemulihan ekonomi yang kuat dapat terjadi apabila penanganan COVID-19 terkendali. Hal itu dapat dilihat dari capaian pertumbuhan ekonomi nasional kuartal II-2021 sebesar 7,07 persen secara year-on-year (YoY).

img_title Menkomdigi Buka Suara soal Ancaman Pemutusan Kabel Internet RI oleh Politisi Singapura

Hal itu disampaikan Sri Mulyani saat memberikan tanggapan terhadap pandangan umum fraksi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) atas RUU APBN 2022, Selasa 24 Agustus 2021.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menkeu juga menjelaskan bahwa pemerintah memandang rentang pertumbuhan ekonomi sebesar 5-5,5 persen pada tahun 2022 mendatang, merupakan asumsi yang secara potensial dapat dicapai. 

img_title Indonesia-Singapura Bentuk Satgas untuk Selidiki Perusahaan Pemicu Karhutla

"Tentunya ini akan sangat tergantung kepada kemampuan menjaga penularan pandemi COVID-19," kata Sri Mulyani.

Menkeu menjelaskan, peningkatan kasus COVID-19 yang terjadi akibat varian delta pada pertengahan 2021, merupakan pelajaran yang sangat penting bagi pemerintah dan masyarakat. Terutama, dalam hal untuk terus menjaga kewaspadaan terhadap COVID-19, seiring upaya memperkuat langkah pengendalian kasus penularannya di masyarakat.

img_title Viral! Politisi Singapura Singgung Pemutusan Jalur Internet Indonesia

"Sehingga momentum pemulihan ekonomi dan kembalinya kesejahteraan masyarakat tetap dapat terjaga," kata Sri Mulyani.

Dia menambahkan, momentum pemulihan ekonomi akan memberikan landasan bagi optimisme pemerintah, guna terus menggenjot kedua sisi baik demand maupun supply. Karena itu, Sri Mulyani berharap bahwa momentum pemulihan ekonomi tidak sampai membuat pemerintah dan masyarakat meninggalkan kewaspadaan, serta langkah antisipasi terhadap berbagai potensi risiko yang masih mungkin terjadi di masa pandemi COVID-19 ini.

"Baik (risiko) akibat COVID-19 sendiri, maupun (risiko akibat) faktor geopolitical global," ujarnya.

Sementara, lanjut Sri Mulyani, akselerasi pertumbuhan ekonomi di satu sisi juga harus didukung dengan langkah-langkah reformasi struktural, yang akan terus dilakukan melalui implementasi Undang-undang Cipta Kerja. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Harapannya, Undang-undang Cipta Kerja akan mampu memberikan dampak positif terhadap kinerja investasi, dan mengakselerasi penciptaan kesempatan kerja serta pertumbuhan ekonomi secara nasional," ujarnya.

Baca juga: Kronologi dan Pemicu Ricuh Vaksinasi Pfizer di Citos

Tampak pengendara melintasi Jalan RTA Milono saat asap pekat akibat karhutla menyelimuti Kota Palangka Raya

Singapura Panggil Bos 10 Perusahaan Terkait Kabut Asap, Ancam Denda hingga Rp70 Juta

Singapura segera memanggil bos 10 perusahaan terkait dugaan karhutla pemicu kabut asap. Perusahaan yang tidak kooperatif terancam denda hingga Rp70,77 juta.

img_title
VIVA.co.id
28 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut