RI Ketiban Cuan Supercycle Komoditas

Ponton besar bermuatan ribuan ton batu bara. (Ilustrasi)
Sumber :
  • ANTARA/MTohamaksun.

Faktor pemicunya yaitu kebutuhan dunia akan komoditas yang tengah meningkat seiring tren pemulihan ekonomi. Selain itu, masalah perubahan iklim yang membuat harga komoditas pangan dunia mengalami lonjakan harga.

img_title Sungai di Kaltim Surut, Angkutan Batu Bara Terhambat

Untuk itu, dalam memanfaatkan situasi tersebut pemerintah membuat kebijakan strategis untuk mendukung ekspor dan memanfaatkan untuk bisa meningkatkan efisiensi industri.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Naiknya PNBP

img_title OJK Ungkap Operasional Bursa Mineral dan Komoditas Strategis Tunggu Perpres

Kemudian, adanya supercycle komoditas juga diakui Kementerian Keuangan mendorong naiknya penerimaan negara bukan pajak (PNBP) hingga 7 September 2021. Kondisi itu dipengaruhi harga komoditas batu bara yang meningkat. 

Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatarwata menjelaskan, data Minerba One Data Indonesia (MODI) mencatat penerimaan negara dari minerba telah mencapai Rp42,36 triliun, atau mencapai 108,33 persen dari target.

img_title Mendag Budi Tunggu Penetapan OJK soal Daftar Komoditas Strategis di Bursa Mineral

"PNBP dari sumber daya alam non-migas memang sedang bagus kinerjanya. Data dari Kementerian ESDM kira-kira sama dengan data yang kami miliki," tuturnya kepada VIVA.

Besaran penerimaan itu, juga seiring dengan penjualan batu bara yang mencapai 322,58 juta ton atau setara 51,61 persen dari target. Sedangkan produksi batu bara hingga saat ini 404,87 juta ton atau 64,78 persen.

Untuk itu, walau PNBP naik, Isa memastikan Kemenkeu akan waspada terhadap harga batu bara demi mengantisipasi terjadinya fluktuasi harga di masa Pandemi COVID-19. Sebab, 65 persen PNBP minerba dikontribusikan batu bara.

Kelapa Sawit - Kebun - Perkebunan - Lahan - Hutan

Photo :
  • ANTARA FOTO/Syifa Yulinnnas

Sementara itu, Pengamat Ekonomi dari Bank Permata, Josua Pardede mengatakan fenomena kenaikan harga komoditas hingga saat ini cenderung menguntungkan Indonesia sebagai negara eksportir komoditas. 

Bahkan, pada neraca perdagangan Agustus lalu, Indonesia meraih surplus yang besar mencapai US$4,7 miliar, tertinggi sejak Desember 2006 sejalan dengan naiknya harga komoditas terutama CPO dan Batu Bara. 

"Tentu ini akan membantu kinerja ekonomi pada kuartal III-2021, sedikit mengkompensasi dampak penurunan kinerja ekonomi akibat penerapan pembatasan mobilitas pada Juli hingga awal Agustus," kata Josua kepada VIVA. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ke depan, lanjut Josua fenomena supercycle ini miliki potensi tekanan harga komoditas sejalan dengan akan dimulainya tapering di Amerika Serikat yang berpotensi menguatkan dolar dan menurunkan harga komoditas. 

Dengan demikian, selain dari dampak langsung tapering terhadap penurunan aliran modal yang berujung kepada tekanan terhadap rupiah, pemerintah juga perlu mengantisipasi penurunan kinerja ekspor karena penurunan harga komoditas yang juga dapat memberikan tekanan terhadap kinerja rupiah. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut