Siklus Super Komoditas Bak Durian Runtuh

Batu Bara dari site BUMI, PT Kaltim Prima Coal, Sangatta, Kalimantan Timur.
Sumber :
  • Dok. BUMI

VIVA – Bisnis komoditas di Indonesia bak ketiban durian runtuh alias untung besar. Nyaris seluruh komoditas sumber daya alam (SDA) harganya meroket. Batu bara, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), minyak mentah, gas bumi, nikel hingga beras mengalami kenaikan.

img_title Kejagung Periksa Pejabat ESDM terkait Dugaan Korupsi Tambang Batu Bara PT CCM

Fenomena ini akrab disebut dengan siklus super komoditas atau commodity supercycle. Penyebab harga komoditas naik, antara lain karena permintaan yang meningkat dan pasokan yang terbatas.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dampak Commodity supercylce ini diakui oleh Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi. Dia melihat ini sebagai salah satu faktor positif yang membuat surplus neraca perdagangan Indonesia memecahkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Pada Agustus 2021, surplus neraca dagang tembus rekor mencapai US$4,74 miliar.

img_title Terungkap, Alasan Menko Pangan Ingin Ekspor CPO Langsung Tanpa Negara Perantara

Mendag memperkirakan, kondisi siklus super ini akan berlanjut sampai September 2022. Fenomena supercycle ini bukan baru kali ini terjadi. Berkaca pada sejarah, fenomena serupa terakhir terjadi pascakriris tahun 2008.

Pengamat Ekonomi Energi UGM, Fahmy Radhi mengatakan, kenaikan harga komoditas dalam super siklus komoditas ini tentunya akan menaikkan nilai ekspor Indonesia. Pada ujungnya akan meningkatkan neraca perdagangan dan memulihkan ekonomi.

img_title Bahlil Bongkar Masalah Izin Tambang di Daerah, Kini Pengusaha Lokal hingga Koperasi Dapat Prioritas

"Peningkatan neraca perdagangan memberikan kontribusi pada pemulihan ekonomi Indonesia," kata Fahmy kepada VIVA.

Secara ekonomi, lanjut dia, kenaikan harga komoditas natural resources seperti CPO, gas dan batu bara menguntungkan bagi Indonesia. Tapi ke depan perlu ada hilirisasi.

"Nilai tambah komoditas tersebut masih rendah karena belum diolah pada saat diekspor," katanya.

Terkait batu bara, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengakui harga batu bara acuan (HBA) pada bulan September 2021 merupakan yang tertinggi sejak 2010.

Kenaikan harga terjadi karena permintaan batu bara terus meningkat di China. Kebutuhan batu bara untuk pembangkit listrik di negeri tirai bambu itu melampaui kapasitas pasokan batu bara domestik mereka.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kenaikan harga saat ini diakuinya memang gila-gilaan dan mencapai US$150,3 per ton. Meningkat ratusan persen dibanding September tahun 2020 yang sempat anjlok ke bawah US$50 per ton.

"September tahun lalu itu kan terendah dalam sepuluh tahun terakhir kan. Bayangkan september itu harga di bawah 50. Tiba-tiba sekarang harga di atas 150 kan gila itu," katanya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut