Faisal Basri: Subsidi BBM Sudah Seperti Candu, Harus Dihilangkan

Pengamat ekonomi dan politik Faisal Basri.
Sumber :
  • VIVA/Lucky Aditya

VIVA Bisnis – Pakar Ekonomi Pembangunan Faisal Basri menilai mengurangi subsidi BBM secara bertahap dan mengalokasikan anggaran ke sektor yang lebih produktif merupakan jalan terbaik.

img_title Terpopuler: Harga BBM RON 95 Tembus Rp19 Ribu, Pabrik BYD Berdiri, hingga Produk Baru IMHAX 2026

Penetapan harga BBM, kata dia, seharusnya berdasarkan formula yang mengacu kepada harga minyak bumi di pasar global, seperti dulu diterapkan pada awal-awal Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Demi kebaikan perekonomian nasional dan kesejahteraan bangsa, lanjut Faisal, secara bertahap subsidi BBM harus dihilangkan.

img_title Terpopuler: Harga BBM RON 95 Terbaru, Jajal XPeng X9, hingga Pilihan Mobil Suzuki Rp300 Jutaan

Polemik subsidi BBM mencuat menyusul potensi membengkaknya biaya subsidi BBM di APBN di tengah naiknya inflasi dunia, karena disrupsi rantai pasok akibat pandemi dan perang Ukraina. Hal ini tentu memunculkan dilema.

“Subsidi BBM dapat diibaratkan seperti candu yang membuat konsumen terlena dan menimbulkan ketergantungan. Untuk melepaskan diri dari ketergantungan tersebut memang sulit, namun tentu bukan mustahil,” kata Faisal Basri dalam kajian berjudul Kebijakan Subsidi BBM: Menegakkan Disiplin Anggaran, dikutip Selasa, 30 Agustus 2022

img_title Terpopuler: Harga BBM Naik Lagi, Pemutihan Pajak September 2026, hingga Warna Mobil Paling Menyerap Panas

Ilustrasi harga BBM.

Photo :
  • VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar

Faisal lebih jauh mengatakan, Presiden Jokowi sebenarnya sudah membuat kebijakan yang baik di awal pemerintahannya, dan ini perlu dilaksanakan konsisten. Saat itu, Presiden Jokowi mengeluarkan Perpres Nomor 191 tahun 2014 yang semangatnya untuk melakukan pengurangan subsidi BBM. 

Berdasarkan aturan tersebut, harga BBM kecuali minyak tanah yang nominal harganya ditentukan dan minyak solar yang mendapat subsidi maksimum seribu rupiah per liter, ditetapkan berdasar formula yang mengacu kepada harga minyak bumi di pasar global, dalam hal ini harga transaksi di bursa minyak Singapura (MOPS). 

“Berdasarkan aturan tersebut harga jual eceran BBM diubah setiap bulan sesuai dengan perubahan harga minyak di bursa Singapura. Selain itu, pemerintah tidak perlu mengeluarkan subsidi untuk bensin premium. Subsidi hanya diberikan untuk minyak tanah dan minyak solar,” kata Faisal Basri. 

Sebut Kompensasi BBM adalah Subsidi Terselubung

SPBU kehabisan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) solar bersubsidi Bio Solar. (foto ilustrasi)

Photo :
  • ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut Faisal Basri, pencabutan subsidi ini berdampak besar pada pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM. Pengeluaran pemerintah untuk subsidi BBM turun tajam dari Rp 191,0 triliun pada 2014 menjadi Rp 34,9 triliun pada 2015. 

Dalam perjalanannya, formula ini tak sepenuhnya berjalan, yaitu sejak adanya Perpres Nomor 43 tahun 2018 yang memberi kewenangan kepada Menteri ESDM untuk menetapkan harga BBM umum berbeda dengan harga yang dihitung berdasarkan formula.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut