Saran Kementan Biar Hasil Panen Bawang Merah Melimpah
VIVA Bisnis – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong penggunaan benih bawang merah berteknologi TSS (True Shallot Seed) atau dikenal dengan pemanfaatan biji botani, untuk meningkatkan hasil panen.
“Memang kami masih dorong terus untuk pengembangan benih TSS. Kami lihat dari biaya produksi, terutama biaya benih, lebih murah dibandingkan menggunakan umbi,” kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Bawang merah setelah dipanen di Kampung Cicayur, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa, 7 Mei 2019.
- ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Prihasto mengatakan kelebihan benih bawang merah TSS adalah mampu mendongkrak hasil umbi bawang merah sampai dua kali lipat dibandingkan penggunaan benih umbi. Selain itu, benih tersebut juga bebas penyakit dan virus, penggunaan benih lebih sedikit, pengangkutan lebih mudah, dan daya simpan lebih lama dibandingkan umbi.
Sekitar 50 persen benih bawang asal biji masih dapat berkecambah setelah disimpan 1-2 tahun. Daya simpan benih bawang asal umbi juga hanya empat bulan.
Kendati banyak kelebihan, lanjut Prihasto, adopsi benih TSS oleh petani cukup sulit, terutama mengubah kebiasaan lama ke baru.
Ilustrasi lahan pertanian.
“Tantangannya apa? Satu, benih biji rata-rata menghasilkan umbi tunggal. Masyarakat rata-rata ingin umbi yang banyak siungnya. Kalau ditanya ke masyarakat mereka enggan menggunakan yang besar-besar karena boros,” kata Prihasto.
Tantangan kedua, kata pria yang biasa disapa Anton itu, mayoritas petani lebih memilih varietas bawang merah yang telah lama digunakan, seperti Bima Brebes dan Tajuk.
Selanjutnya tantangan ketiga adalah masa tanam hingga panen lebih lama dibanding varietas yang sudah ada. “Tapi untuk bawang merah ini bijinya masih sangat-sangat terbatas. Dari varietas yang ada, belum ada untuk pengembangan bijinya,” kata dia.
Buruh tani memanen bawang merah di Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Jombang, Jawa Timur
- ANTARA FOTO/Syaiful Arif
Pengembangan TSS skala nasional telah diinisiasi Ditjen Hortikultura sejak 2018. Pada 2020, Ditjen Hortikultura mengembangkan budidaya bawang merah TSS di lahan seluas 1.100 hektare, naik 915 hektare di 2021. “Target 2022 seluas 1.000 hektare. Teknologi TSS berpotensi meningkatkan produksi dan efisiensi biaya produksi,” katanya.
Selain mengintroduksi benih baru, Ditjen Hortikultura juga menyiapkan strategi pengamanan bawang merah secara nasional.
Pertama, menyediakan gudang berkapasitas besar dilengkapi penyimpanan berpendingin untuk pengelolaan stok. Kedua, optimalisasi pemanfaatan gudang di daerah.