Saran Kementan Biar Hasil Panen Bawang Merah Melimpah

Panen bawang merah.
Sumber :

VIVA Bisnis – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura mendorong penggunaan benih bawang merah berteknologi TSS (True Shallot Seed) atau dikenal dengan pemanfaatan biji botani, untuk meningkatkan hasil panen.

img_title Kolaborasi Ekonomi Bangun Ekosistem Pertanian dan Perbenihan Jadi Sorotan di Hari Tani Nasional 2026

“Memang kami masih dorong terus untuk pengembangan benih TSS. Kami lihat dari biaya produksi, terutama biaya benih, lebih murah dibandingkan menggunakan umbi,” kata Direktur Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bawang merah setelah dipanen di Kampung Cicayur, Cimenyan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Selasa, 7 Mei 2019.

Photo :
  • ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

img_title Hijaukan 26 Ribu Hektare Hutan, Perhutani Siapkan 20 Juta Bibit Buat Musim Tanam 2026

Prihasto mengatakan kelebihan benih bawang merah TSS adalah mampu mendongkrak hasil umbi bawang merah sampai dua kali lipat dibandingkan penggunaan benih umbi. Selain itu, benih tersebut juga bebas penyakit dan virus, penggunaan benih lebih sedikit, pengangkutan lebih mudah, dan daya simpan lebih lama dibandingkan umbi.

Sekitar 50 persen benih bawang asal biji masih dapat berkecambah setelah disimpan 1-2 tahun. Daya simpan benih bawang asal umbi juga hanya empat bulan.

img_title Kebutuhan Domestik Terpenuhi, Bawang Merah Brebes Ekspansi Pasar hingga Thailand

Kendati banyak kelebihan, lanjut Prihasto, adopsi benih TSS oleh petani cukup sulit, terutama mengubah kebiasaan lama ke baru.

Ilustrasi lahan pertanian.

Photo :

“Tantangannya apa? Satu, benih biji rata-rata menghasilkan umbi tunggal. Masyarakat rata-rata ingin umbi yang banyak siungnya. Kalau ditanya ke masyarakat mereka enggan menggunakan yang besar-besar karena boros,” kata Prihasto.

Tantangan kedua, kata pria yang biasa disapa Anton itu, mayoritas petani lebih memilih varietas bawang merah yang telah lama digunakan, seperti Bima Brebes dan Tajuk.

Selanjutnya tantangan ketiga adalah masa tanam hingga panen lebih lama dibanding varietas yang sudah ada. “Tapi untuk bawang merah ini bijinya masih sangat-sangat terbatas. Dari varietas yang ada, belum ada untuk pengembangan bijinya,” kata dia.

Buruh tani memanen bawang merah di Desa Tondowulan, Kecamatan Plandaan, Jombang, Jawa Timur

Photo :
  • ANTARA FOTO/Syaiful Arif

Pengembangan TSS skala nasional telah diinisiasi Ditjen Hortikultura sejak 2018. Pada 2020, Ditjen Hortikultura mengembangkan budidaya bawang merah TSS di lahan seluas 1.100 hektare, naik 915 hektare di 2021. “Target 2022 seluas 1.000 hektare. Teknologi TSS berpotensi meningkatkan produksi dan efisiensi biaya produksi,” katanya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Selain mengintroduksi benih baru, Ditjen Hortikultura juga menyiapkan strategi pengamanan bawang merah secara nasional.

Pertama, menyediakan gudang berkapasitas besar dilengkapi penyimpanan berpendingin untuk pengelolaan stok. Kedua, optimalisasi pemanfaatan gudang di daerah.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut