Sri Mulyani: Risiko Ekonomi Dunia Berubah dari Ancaman Pandemi Menjadi Finansial

Menteri Keuangan Sri Mulyani di istana.
Sumber :
  • youtube Sekretariat Presiden

VIVA Bisnis – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 2023 mengalokasikan belanja ketahanan pangan sebesar Rp 104,2 triliun atau lebih tinggi dari 2022 yang sebesar Rp 94 triliun. Meningkatnya anggaran belanja itu sebagai respons atas kondisi ekonomi dunia saat ini.

OJK Susun Aturan PInjol, Masyarakat Bisa Utang hingga Rp 10 Miliar

Sri Mulyani mengatakan, pada 2023 dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk perlindungan sosial kepada masyarakat pemerintah mengalokasikan sebesar Rp 476 triliun.

Untuk belanja pemerintah pusat pada bantuan sosial dan subsidi mencapai Rp 454,7 triliun, transfer ke daerah (TKD) Rp 17 triliun, serta pembiayaan Rp 4,3 triliun.

Indonesia-AS Sepakat Tukar Utang US$35 Juta, Sri Mulyani Ungkap Alasannya

Baca juga: Harga Emas Hari Ini 1 Desember 2022: Global dan Antam Kompak Berkilau

"Tantangan untuk tahun depan berhubungan pangan dan energi di respons dengan APBN di mana belanja untuk ketahanan pangan meningkat menjadi Rp 104,2 triliun dari Rp 94 triliun tahun ini," kata Sri Mulyani dalam Penyampaian Laporan Penyerahan DIPA dan Buku Alokasi Transfer ke Daerah Tahun Anggaran 2023, Kamis 1 Desember 2022.

Government Extends Food Assistance Program to December

Sri Mulyani mengatakan, untuk ketahanan energi dalam rangka menjaga masyarakat dan perekonomian akibat ketidakpastian harga energi. Alokasi dana untuk belanja energi mencapai Rp 341,3 triliun.

Sri Mulyani menuturkan, pemerintah saat ini tengah mencermati perkembangan ekonomi global yang harus terus diwaspadai. Di mana itu berasal dari geopolitik antara Rusia-Ukraina, kebijakan zero COVID policy di China, hingga kebijakan pengetatan moneter di negara-negara maju.

Ilustrasi Krisis Ekonomi

Photo :

"Kebijakan moneter di negara-negara maju di dalam rangka mengendalikan inflasi yang akan berakibat kepada pelemahan ekonomi global. Kenaikan suku bunga juga akan meningkatkan cost of fund dan ini memicu aliran modal keluar dari negara-negara berkembang," jelasnya.

Menurutnya, saat ini risiko ekonomi dunia telah berubah dari yang semula berupa ancaman pandemi menjadi ancaman finansial atau keuangan.

"Risiko ekonomi yang telah berubah dari ancaman pandemi sekarang menjadi ancaman finansial, yang membutuhkan respons berbeda dan kewaspadaan yang tinggi," imbuhnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya