Airlangga Minta Perbankan Kasih Bunga Spesial ke Eksportir yang Lama Parkir DHE di Dalam Negeri

Ilustrasi Ekspor-Impor
Sumber :
  • VIVA/M Ali Wafa

VIVA Bisnis – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mendorong para pihak perbankan agar dapat memberikan suku bunga spesial bagi para eksportir.  Yang, menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) nya di dalam negeri.

Golkar Semarang Anggap Usung Dico Ganinduto Kejutan di Pilkada Kota Semarang

Tujuannya, supaya makin banyak eksportir yang menempatkan atau memarkirkan DHE-nya makin lama di Indonesia. Karena saat ini masih banyak DHE eksportir yang hanya parkir sebentar di dalam negeri, sebelum kemudian dipindahkan ke perbankan di luar negeri.

"Ini persoalan klasik. Karena para eksportir mengatakan jika (mereka menyimpan DHE) di luar negeri, bunganya 3 persen," kata Airlangga dalam telekonferensi di acara 'Kompas100 CEO Forum XIII', Jumat ,2 Desember 2022.

Bamsoet Sebut Golkar Bisa Koalisi dengan PSI dalam Pilkada di Sejumlah Daerah

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.

Photo :
  • Anisa Aulia/VIVA.

Airlangga mengaku sangat menyayangkan kondisi semacam itu. Sebab, neraca perdagangan Indonesia sudah surplus 30 bulan berturut-turut, dengan rata-rata surplus setiap bulannya mencapai hingga US$5 miliar.

Anak Usaha Jakpro Gandeng DPLK Syariah Muamalat Sediakan Program Pensiun

Dia menegaskan, semestinya keuntungan tersebut bisa turut menjadi dukungan bagi ketahanan eksternal Indonesia. Namun, nyatanya saat ini cadangan devisa Indonesia justru mengalami penurunan.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia di akhir Oktober 2022 memang masih tetap tinggi, yakni sebesar US$130,2 miliar. Meskipun, hal itu sedikit menurun jika dibandingkan dengan posisi akhir September 2022, yang mencapai sebesar US$130,8 miliar.

Karenanya, Airlangga pun menekankan bahwa penurunan cadangan devisa ini harus menjadi fokus perhatian dan pekerjaan rumah bagi pemerintah dan pelaku usaha, untuk memperdalam sektor-sektor ekonomi yang berpotensi menghasilkan dolar, terutama para pelaku ekspor.

Ekspor-Impor

Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Hal itu sebagaimana kekhawatiran yang sama, terkait penurunan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia saat ini. Di mana, level ekspansi yang berada di level 50,3 pada November 2022, terus menurun dari capaian di Oktober 2022 yang sebesar 51,8 dan September 2022 yang sebesar 53,7.

"Kemarin, Gubernur BI juga sudah mengatakan bahwa akan memberikan Giro Wajib Minimum (GWM) khusus untuk menarik devisa ke dalam negeri," ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya