BI Waspadai Perlambatan Ekonomi China dan Menguatnya Ekonomi AS

Gubernur BI Perry Warjiyo.
Sumber :
  • Anisa Aulia/VIVA.

Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan latar belakang pihaknya mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi global sebesar 2,7 persen. Salah satu indikatornya adalah ketidakpastian perekonomian global yang masih tetap tinggi hingga kuartal III-2023.

img_title Isu Palestina Masuk Agenda Besar, Anak Muda Masjid Siapkan Acara Internasional Libatkan 38 Negara

"Seiring adanya kecenderungan bahwa ekonomi China melambat, sementara ekonomi Amerika Serikat semakin kuat," kata Perry dalam telekonferensi, Kamis, 21 September 2023.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi pertumbuhan ekonomi China.

Photo :
  • TheRichest.com

img_title Ibas Dorong Generasi Muda Ponorogo Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kreatif

Dia menjelaskan, melemahnya permintaan domestik dan masalah di sektor properti China, telah menjadi salah satu biang kerok utama dari perlambatan ekonomi di Negeri Tirai Bambu tersebut.

"Ditambah dengan anjloknya ekspor China, sebagai buntut dari ekonomi global yang melambat," ujarnya.

img_title Hashim Dorong Rekening Bank Gratis bagi Warga, Ini Dampaknya bagi Ekonomi Daerah

Di sisi lain, penguatan konsumsi rumah tangga seiring dengan kenaikan upah dan pemanfaatan ekses tabungan di perekonomian AS, telah membuat ekonomi Sang Paman Sam menguat.

Karenanya, Perry pun memperkirakan bahwa laju inflasi global akan tetap tinggi, akibat sejumlah hal seperti tekanan inflasi di sektor jasa, kenaikan harga minyak, dan masih ketatnya pasar tenaga kerja. "Sehingga mendorong suku bunga global berada pada tingkat yang tetap tinggi," kata Perry.

Selain itu, lanjut Perry, BI juga memperkirakan bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada November 2023 mendatang. Hal itu diperkirakan akan dilakukan The Fed, setelah sebelumnya suku bunga dipertahankan pada tingkat 5,25 sampai 5,5 persen pada pertemuan FOMC September ini.

"Berlanjutnya kenaikan suku bunga The Fed akan semakin meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global, terutama di pasar negara berkembang yang menyebabkan pelemahan nilai tukar di negara berkembang semakin tinggi," ujar Perry.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Karenanya, masih dibutuhkan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif dari rambatan global tersebut," ujarnya.

Ilustrasi Tembakau

Bukan Cuma Rokok, Tembakau Punya Potensi Jadi Bahan Baku Obat, Kosmetik hingga Bioenergi

Hilirisasi tembakau membuka peluang ekonomi di luar industri rokok. Tembakau berpotensi diolah menjadi bahan baku obat, kosmetik, bioenergi hingga bioplastik.

img_title
VIVA.co.id
2 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut