Efektifkah Kendaraan Listrik tapi Sumber Energinya dari PLTU Batu Bara?

PLN sediakan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum di Labuan Bajo
Sumber :
  • Jo Kenaru/tvOne/Manggarai Barat-NTT)

Jakarta – Salah satu polemik yang kerap muncul saat berbicara perihal pemanfaatan kendaraan listrik adalah soal seberapa efektifnya penggunaan kendaraan listrik yang sumber energinya masih diambil dari PLTU batu bara.

img_title 3 BUMN Kolaborasi Dukung Program Molinas Prabowo, Siapkan Ratusan Fasilitas Pengisian dan Penukaran Baterai di SPBU

Menanggapi polemik tersebut, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin mengatakan, pihaknya sudah menghitung efektivitas dari pemanfaatan kendaraan listrik, yang sumber energinya masih berasal dari PLTU batu bara.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Setelah hasil perhitungan diperoleh, Rachmat pun menegaskan bahwa upaya untuk beralih ke kendaraan listrik, meskipun energinya masih berasal dari PLTU batu bara, memang benar-benar berguna dan bermanfaat bagi lingkungan.

img_title Pacu Transisi Energi, Pemerintah Wujudkan Inovasi PLN Jadi Manfaat Nyata Buat Masyarakat RI

"Kemarin kita sempat hitung-hitung, menurut kita sih ada (gunanya)," kata Rachmat dalam telekonferensi di acara sosialisasi 'Dekarbonisasi Sektor Transportasi melalui Adopsi Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) Wilayah Jawa Barat', Selasa, 7 November 2023.

Deputi Transportasi dan Infrastruktur Kemenko Marves, Rachmat Kaimuddin.

Photo :
  • VIVA/Mohammad Yudha Prasetya.

img_title Moncer, Penjualan BYD Group di Indonesia Sampai September Capai 46.700 unit

Dia pun merinci hasil perhitungan tersebut. Saat efisiensi motor listrik dihitung berdasarkan jarak tempuhnya, maka jarak yang bisa ditempuh oleh 1 liter bensin sama dengan jarak yang ditempuh dengan energi antara 1,2-1,3 kwh menggunakan kendaraan listrik.

"Ini matematika yang biasa kita hitung, 1 liter bensin itu jaraknya kira-kira sama dengan 1,2-1,3 kwh kalau di kendaraan listrik. 1 liter bensin itu kalau dibakar CO2-nya, adalah 2,4 kg. Tapi kalau 1 kwh itu kira-kira hanya 1 kg pure coal fire," ujarnya.

Karenanya, Rachmat mengatakan bahwa kalaupun seandainya seluruh pembangkit listrik di Indonesia itu menggunakan batu bara (coal), maka itu pun masih ada saving CO2 antara 40-50 persen. "Dan tentunya, kan tidak semua pembangkit listrik di Indonesia itu PLTU. Kita juga punya yang (emisi dari pembangkitnya) rendah. Emisi kita enggak 1 kg/kwh, tapi mungkin sekitar 0,7 (kg/kwh)," kata Rachmat.

Rachmat pun menegaskan bahwa upaya pengurangan emisi CO2 melalui penggunaan kendaraan listrik itu, memang benar-benar nyata manfaatnya. Hal itu bahkan dapat dilihat dari perbandingan antara jumlah cerobong pembangkit listrik, dengan jumlah knalpot kendaraan bermotor yang ada di Indonesia.

"Jadi pengurangan emisi ini sebenarnya sangat-sangat real. lebih gampangnya lagi, kita punya cerobong jumlahnya puluhan atau ratusan, dan kita punya knalpot 150 juta. Lebih gampang mana untuk dikendalikan, yang puluhan/ratusan atau yang 150 juta?" ujar Rachmat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi ini (peralihan ke kendaraan listrik) memang harus kita lakukan lebih baik. Karena ini dua hal yang memang berkaitan, tapi tidak percuma kalau kita kerjakan satu dulu. Apalagi saat ini pemerintah juga tengah mengerjakan keduanya," ujarnya.

Bus Listrik

Pendapatan VKTR Tumbuh 49 Persen pada 9M26, Kontribusi Kendaraan Listrik Terus Meningkat

PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk ("VKTR"), emiten pionir kendaraan listrik komersial di Indonesia, membukukan pertumbuhan kinerja yang solid sepanjang 9 bulan pertama 2026

img_title
VIVA.co.id
2 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut