OJK dan LPS Cermati Efek Resesi Inggris-Jepang ke RI

Ilustrasi resesi ekonomi/krisis ekonomi global.
Sumber :
  • Unsplash

Jakarta – Jepang dan Inggris resmi masuk ke dalam jurang resesi. Hal ini dipicu oleh ekonomi kedua negara itu mengalami kontraksi dalam dua kuartal berturut-turut. 

img_title Bos OJK Curhat ke Prabowo soal Ancaman MSCI, Akui Penegakan Hukum Pasar Modal Belum Keras

Lalu dengan resesinya kedua negara maju tersebut, bagaimana dampaknya ke Indonesia? 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar mengatakan pihaknya akan terus memantau dampak resesi Jepang dan Inggris terhadap sektor keuangan Indonesia. 

img_title Teknologi Pengolahan Sampah Langsung di Sumbernya Bisa Jadi Kunci Ekonomi Sirkular

"Kita akan cermati sekiranya ada dampaknya, tapi sejauh ini kami tidak mengharapkan dan antisipasi ada dampak terlalu berat. Karena kan hal yang juga sudah kita lihat beberapa waktu terakhir ini," ujar Mahendra di Hotel St Regis, Jakarta, Selasa, 20 Februari 2024.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar

Photo :
  • VIVA.co.id/Anisa Aulia

img_title OJK Jatuhkan Sanksi Rp1,5 Triliun, 74 Persen Emiten di Bursa RI Catat Laba

Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner LPS, Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak langsung percaya dengan ramalan International Monetary Fund (IMF) soal gejolak global. Menurutnya, kinerja ekonomi sejumlah negara maju masih sangat apik.

Purbaya menuturkan, kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS) masih kuat, hal ini berkat stimulus yang diberikan China.

"AS masih kuat, kan China udah ngasih stimulus untuk perekonomian. Amerika sudah ekspansif kebijakannya, cuma sinyalnya seolah-olah kontraktif. Jadi anda nggak usah takut ramalan IMF akan global ini," jelasnya. 

Purbaya memperkirakan, ekonomi global di 2024 masih tetap tumbuh meski tidak terlalu ekspansif. Namun, dia mengatakan masih ada kemungkinan resesi jika perang global melibatkan partai besar.

"Kalau kita fokus domestik, kita masih bisa selamat. Apalagi global harusnya masih tumbuh 3,2 persen. Tahun lalu (IMF) katanya lebih buruk tapi angkanya masih 3,2 persen. Jadi IMF juga nggak konsisten kalau dia bilang lebih buruk harusnya angkanya lebih rendah," terangnya. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Jadi anda jangan percaya juga dengan lembaga internasional," sambungnya.

Pendiri Gates Foundation Bill Gates di Istana Negara, 7 Mei 2025

Bill Gates Peringatkan Dampak AI, Ekonomi dan Kehidupan Bisa Berubah dalam 20 Tahun ke Depan

Bill Gates memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi memicu gejolak ekonomi dan sosial selama dua dekade ke depan. Baca selengkapnya terkait peringatan Gates

img_title
VIVA.co.id
24 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut