Balanipa Olah Limbah Jadi Cuan Berlimpah
- VIVA.co.id/Natania Longdong
"Semuanya bertahap tapi mulai dari tahun 2019, 2020, 2021,2022 2023 2024. Semuanya ada di sini. Alhamdulillah dengan kegiatan ini anggotanya sampai kemarin sudah bisa mewisuda (mengkuliahkan) anaknya. Artinya dengan bekerja di sini, hasil dari sini. Membuktikan bahwa ekonomi itu berjalan," ujar Sahabuddin.
Balanipa, kelompok binaan Pertamina olah tali tambang bekas kapal jadi cuan
- VIVA.co.id/Natania Longdong
Tak hanya itu, bahkan warga yang awalnya tidak memiliki kendaraan seperti motor, kini bekerja dengan Sahabuddin dapat membeli motor baru dari hasil kerja keras bersama.
"Alhamdulillah (ada yang) beli (motor) sendiri, membantu anaknya sekolah, membantu suaminya mencari (nafkah) juga. Ini berkat support PHSS. Bantuannya sehingga menjadi seperti ini, apa yang kita bisa lihat ini adalah berkat support-nya PHSS," ungkapnya.
Sahabuddin bahkan menyebut tidak menyangka bahwa hal yang dianggap limbah ternyata memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Pembelian tali tambang bekas kapal ini, awalnya tidak dipungut biaya sama sekali. Namun, karena ada beberapa orang yang melihat hasil daur ulang tersebut, Sahabuddin akhirnya membelinya dengan harga Rp 9.000 perkilo.Â
"Saya beli di pinggir pantai, numpuk kan, daripada situ Numpuk. Ya itu tadi, mending saya olah daur kembali digunakan. Awalnya enggak beli Pak ya, awalnya ini kan dibuang, tapi langsung ambil, tapi pas ternyata ini ada nilai ekonominya baru (mereka tetapkan harga," tutur Pak Sahabuddin.
Dalam penjelasan penutupnya, Sahabuddin selaku Ketua Balanipa berharap dapat berjalan secara mandiri tanpa dibina lagi oleh PHSS.
"Kalau bisa ke depannya dilepasin kemandirian, bisa bertarung melawan dunia sendiri tanpa ada pembinaan seperti itu. Intinya sudah bisa mandiri. Selain itu, Beberapa pengembangan yang tadi disampaikan untuk lebih lanjut bisa dikuatkan," jelasnya.
Secara khusus, dia juga menjelaskan bahwa saat ini kelompok Balanipa secara bisnis sudah mulai bisa diurus sendiri, dari mulai pengolahan bekas tali jangkar, sampai kemudian jadi yang bisa dijual kembali dan pasarnya sudah terbentuk.
"Itu sudah bisa mandiri. Malah ini kalau masih ada tenaga, pasar (pembeli) terus berdatangan."
Sebagai informasi, kelompok Balanipa memiliki anggota 13 orang. Semua yang berkaitan dengan tali jangkar bekas kapal yang dapat didaur ulang. Bukan hanya menjadi tali rumpon, tetapi juga menjadi kesenian 'estetik' seperti bangku, cermin, dan tirai lengkap dengan hiasan dari tali tambang.