Volume Transaksi Program 3 Juta Rumah Diproyeksi Tembus Rp 400 T Per Tahun, Begini Itungannya
- Muhammad Solihin
Jakarta, VIVA – Wacana Pemerintahan Prabowo Subianto yang akan segera menggulirkan Program 3 juta rumah per tahun yang segera membangkitkan optimisme publik. Salah satu alasan pemicunya, dana ratusan triliun dari proyek strategis ini akan mengucur guna menggerakkan sektor riil dan pada akhirnya mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.
Berdasarkan peta jalan tim satgas perumahan, akan ada 3 juta rumah yang disiapkan setiap tahunnya. Sebanyak 1 juta unit untuk memenuhi kebutuhan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di perkotaan dan 2 juta unit untuk masyarakat di pedesaan.
"Program prioritas Pak Prabowo adalah pengentasan kemiskinan yang salah satu instrumennya mengandalkan sektor perumahan. Efek berantai proyek ini akan menggerakkan sektor riil, membuka lapangan kerja dan meningkatkan perputaran uang di daerah” kata Bonny Z. Minang, anggota tim satgas perumahan yang diketuai Hashim Djojohadikusumo.
Bank Tabungan Negara (BTN) pun melakukan kajian internal berapa potensi dana yang bakal bergulir dari program tersebut. Dikutip dari kajian tersebut, Minggu, 20 Oktober 2024, estimasi dilakukan dengan harga rumah subsidi di perkotaan memiliki nilai jual rata rata Rp200 juta dan rumah di pedesaan di kisaran Rp75 juta -Rp100 juta.
Contoh rumah Rp130 juta yang dijual Ciputra Group di Maja, Banten.
- VIVA.co.id/Fikri Halim
Hasilnya, jika program 3 juta rumah terserap maksimal, maka volume transaksinya bisa mencapai sekitar Rp400 triliun per tahun. Ini merupakan estimasi minimal karena harga jual hunian di tiap daerah tidak selalu sama.
Dana sebesar itu bakal mengalir ke para pengembang, terutama para pengembang kelas menengah kecil yang akan membangun hunian layak untuk MBR di pedesaan. Pembangunan hunian layak di kota maupun desa, akan menjadi penggerak ekonomi di sekitarnya.
Menurut hitungan tim kajian BTN, proyek properti akan memberi multiplier effect ke 183 sub sektor usaha lainnya. Mulai dari sektor paling hulu seperti produsen semen, batu bata, rangka baja atau rantai pasok paling hilir seperti toko bangunan, pemasok tukang serta pelaku UMKM penyangga kebutuhan proyek.
Jika Menteri Perumahan pilihan Presiden Prabowo bisa bergerak cepat, maka target pertumbuhan ekonomi 8% bakal dapat sokongan signifikan dari sektor properti dan ekosistemnya.