Penasehat Danantara Ray Dalio: Hindari Dolar AS

Penasehat Danantara asal AS, Ray Dalio.
Sumber :
  • Bloomberg

Jakarta, VIVA – Penasehat Danantara dan investor kawakan asal Amerika Serikat (AS), Ray Dalio, mengingatkan investor untuk menyimpan hingga 15 persen portofolio ke dalam Bitcoin dan emas, di tengah lonjakan utang nasional AS dan kekhawatiran terhadap pelemahan nilai tukar dolar AS.

img_title Respons Bitcoin Usai The Fed Naikkan Suku Bunga Jadi Sorotan, Indodax Kasih Penjelasan

Pendiri hedge fund raksasa Bridgewater Associates itu menilai bahwa kedua aset tersebut dapat memberikan rasio imbal hasil terhadap risiko yang optimal dalam kondisi fiskal saat ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Jika kamu mengoptimalkan portofolio untuk rasio return-to-risk terbaik, maka sekitar 15 persen sebaiknya dialokasikan ke emas atau Bitcoin,” kata Ray Dalio, seperti dikutip dari situs Indodax, Rabu, 30 Juli 2025.

img_title Rupiah Melemah ke Rp 17.764 Seiring Tantangan Suahasil Tumbuhkan Ekonomi & Jaga Kredibilitas APBN

Pernyataan ini menjadi perubahan signifikan dari rekomendasi sebelumnya. Pada Januari 2022, dirinya cuma menyarankan alokasi 1–2 persen ke Bitcoin.

Rekomendasi penasehat Danantara tersebut muncul di tengah kekhawatiran terhadap utang federal AS yang kini mencapai US$36,7 triliun (Rp602,3 triliun), menurut data Departemen Keuangan AS.

img_title Pramono Ungkap Alasan Minta Bantu Danantara Perluas Rute LRT hingga JIS dan Stasiun Whoosh

Pemerintah AS juga diperkirakan harus menerbitkan hingga US$12 triliun (Rp197 triliun) surat utang baru dalam 12 bulan ke depan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran bunga dan pengeluaran fiskal lainnya.

Dalam laporan terpisah, Departemen Keuangan AS juga menyebutkan bahwa pinjaman pemerintah pada kuartal III-2025 akan mencapai US$1 triliun (Rp16.412 triliun), meningkat drastis dari proyeksi sebelumnya akibat melemahnya arus kas dan cadangan.

“Masalahnya adalah devaluasi uang. Kondisi seperti sekarang sebagai bagian dari 'debt doom loop',” jelas Ray Dalio.

Menurutnya, Bitcoin dan emas merupakan aset keras (hard assets) yang mampu bertahan di tengah tekanan inflasi dan ketidakstabilan fiskal.

Meski demikian, ia menyatakan bahwa dirinya lebih menyukai emas ketimbang Bitcoin, namun tetap membuka ruang bagi keduanya untuk dijadikan instrumen diversifikasi.

“Saya punya sedikit Bitcoin, tapi lebih menyukai emas. Proporsinya terserah Anda,” tuturnya. Ray Dalio juga menyebut fenomena serupa tidak hanya terjadi di AS, tetapi juga di negara Barat lain seperti Inggris.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia pun memprediksi bahwa mata uang fiat akan terus terdepresiasi terhadap aset keras dalam beberapa tahun ke depan.

Meski mendukung Bitcoin sebagai alat diversifikasi, Ray Dalio masih meragukan kemampuannya untuk dijadikan mata uang cadangan oleh bank sentral.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut