Sisi Gelap Warga Kelas Menengah RI, Gaya Hidup Elit Tapi Dompet Menjerit

Ilustrasi kelas menengah di Indonesia.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Jakarta, VIVA – Kelas menengah di Indonesia sering dipersepsikan sebagai kelompok mapan yang menjadi motor penggerak konsumsi nasional. Mereka tinggal di kota besar, punya pekerjaan tetap, dan bisa menikmati gaya hidup modern. 

img_title Rencana Kenaikan Batas Penghasilan Bebas Pajak Bawa Angin Segar untuk Warga Kelas Menengah RI

Namun di balik tampilan tersebut, realitas finansial mereka ternyata tidak seindah yang terlihat di permukaan. Menurut laporan Nielsen Lifestyle Consumer Report, lebih dari separuh pengeluaran kelas menengah dihabiskan untuk konsumsi simbolik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Konsumsi simbolik ini di antaranya seperti mengganti ponsel terbaru, nongkrong di kafe, belanja fesyen, atau berlibur ke destinasi hits. Gaya hidup mewah ini lebih ditujukan untuk menjaga citra dan status sosial dibanding kebutuhan riil. 

img_title Kelas Menengah Menyusut, Apa yang Terjadi dengan Dunia Kerja Indonesia?

Fenomena ini dikenal sebagai "fake rich", yaitu terlihat kaya secara sosial, namun kondisi keuangan sesungguhnya justru rentan. Berikut ini beberapa fakta tentang pola konsumsi kelas menengah di Indonesia, seperti dirangkum dari berbagai sumber, Senin, 4 Agustus 2025.

Ilustrasi dompet kosong

Photo :
  • pexels.com

img_title AMOLED 120Hz Makin Banyak di HP Kelas Menengah, Cek Daftar di Sini!

1. Lebih dari 50% Gaji untuk Konsumsi Simbolik

Data Nielsen menunjukkan bahwa sebagian besar pengeluaran kelas menengah Indonesia tidak difokuskan pada kebutuhan pokok atau masa depan seperti tabungan dan investasi. Justru, pengeluaran besar terjadi pada hal-hal yang mencerminkan status sosial, seperti gadget, fesyen bermerek, nongkrong, hingga staycation di hotel.

Alih-alih memperkuat fondasi keuangan jangka panjang, banyak dari mereka terjebak dalam siklus belanja impulsif demi pengakuan sosial.

2. Tabungan dan Investasi Sering Dikesampingkan

Gaya hidup tinggi tidak sebanding dengan kebiasaan menabung. Bahkan menurut berbagai survei, hanya sebagian kecil masyarakat kelas menengah yang memiliki dana darurat setara 3–6 bulan pengeluaran. Investasi juga belum menjadi prioritas, terutama bagi mereka yang berada di rentang penghasilan Rp5–10 juta per bulan.

3. Tampak Sejahtera, Tapi Sering 'Kering' di Akhir Bulan

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena fake rich membuat banyak orang terlihat mapan dari luar, tapi sebenarnya sering kehabisan uang sebelum akhir bulan tiba. Keputusan konsumtif yang berulang menjebak mereka dalam siklus hidup “gali lubang tutup lubang”.

Di sisi lain, kelompok ini justru menjadi penopang konsumsi nasional, meski kondisi keuangannya sendiri tidak sehat.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut