Jadi Inspirasi Lewat Koperasi Petani
- VIVA.co.id/Muhamad Solihin
Ke depannya, petani kecil yang sebelumnya dianggap "unbankable" akan dapat dipercaya oleh lembaga keuangan, berkat rekam jejak koperasi yang sehat dan tata kelola yang transparan.
Ia melihat hortikultura sebagai sektor yang sangat strategis. Namun, petani hortikultura sering kali kesulitan karena tidak adanya kelembagaan yang kuat.
Dengan koperasi, maka para petani bisa membangun dari hulu ke hilir — dari produksi, pembiayaan, hingga pemasaran.
“Petani hortikultura menghadapi banyak risiko, dari harga pasar yang fluktuatif hingga gagal panen. Melalui koperasi, risiko ini bisa dikelola bersama. Petani jadi tidak sendiri dalam menghadapi tantangan,” tegas Aditya.
Ia juga menilai sektor hortikultura adalah masa depan pertanian Indonesia. Pasarnya besar, siklus tanam cepat, dan nilai ekonominya tinggi.
Tak heran jika organisasi ini kini mulai memfokuskan program-program pendampingannya pada koperasi petani hortikultura.
Sebagai informasi, Agriterra bukan pemain baru dalam dunia koperasi petani di Indonesia. Hingga tahun lalu, organisasi ini telah mendampingi lebih dari 30 koperasi petani dan nelayan di berbagai daerah.
Total pembiayaan yang berhasil dimobilisasi mencapai lebih dari Rp500 miliar, sebagian besar digunakan untuk modal kerja dan investasi produktif petani.
Di sisi ekspor, kontribusi koperasi binaan Agriterra mencapai lebih dari Rp1,1 miliar dan lebih dari US$3 juta.
Bukan hanya aspek finansial yang diperkuat, Agriterra juga aktif memberikan pelatihan dalam manajemen koperasi, tata kelola keuangan, serta strategi bisnis pertanian.
Pendampingan dilakukan secara intensif dan partisipatif, membuat koperasi tidak hanya tumbuh secara ekonomi, tetapi juga kuat secara kelembagaan.