Bukan PHK Massal, Ini Dampak Lain AI di Perusahaan dan Pasar Kerja
- Freepik
"Karyawan yang menggunakan alat AI ini, masih perlu meninjau dan membuat perubahan yang diperlukan. Dalam beberapa kasus, ini tidak lebih efisien untuk beberapa pekerjaan," lanjutnya.
Survei ini sendiri.mencakup 350 organisasi yang mewakili lebih dari 200.000 karyawan di kawasan Gulf Cooperation Council (GCC).
Selain itu, studi ini mengungkap adanya kekurangan tenaga ahli AI di perusahaan lokal maupun regional. Berdasarkan datanya, perusahaan multinasional dilaporkan telah mengimplementasikan AI pada level enterprise sebesar 42 persen, dibandingkan hanya 7 persen di perusahaan milik GCC.
Lebih lanjut, studi menemukan bahwa 41 persen perusahaan menghabiskan kurang dari US$500.000 atau setara Rp8,2 miliar per tahun untuk AI, 19 persen berinvestasi antara US$500.000–5 juta (Rp8,2–82 miliar), dan 8 persen menghabiskan lebih dari US$5 juta (Rp82 miliar).Â
"Ini sangat terfragmentasi. Teknologi sebenarnya tidak memberikan hasil sesuai harapan orang, atasan, atau perusahaan. Dalam beberapa kasus, ini menyebabkan burnout dan kelelahan karyawan," ujarnya.