Fintech Ini Menyesal PHK Ribuan Karyawan Gara-gara AI

Ilustrasi kecerdasan buatan (AI).
Sumber :
  • freepik.com/freepik

Jakarta, VIVA – Perusahaan teknologi keuangan (financial technology/fintech) ini menyesal melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK ribuan karyawannya untuk diganti sama teknologi kecerdasan buatan (AI).

img_title Menbud Fadli Zon: Pemanfaatan AI Tetap Mengedepankan Pendekatan Human-Centered

Hal itu terjadi pada 2024, di mana fintech asal Swedia, Klarna, memutuskan untuk membuang ribuan karyawannya, lalu diisi oleh AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belum satu tahun transisi, kini, mereka menyesal. Alhasil, Klarna kembali merekrut karyawan dengan memajang pengumuman lowongan pekerjaan di situs web resmi perusahaan.

img_title 4 Kekurangan Siri AI yang Bikin Pengguna iPhone Kesal

Keputusan tersebut diungkap oleh Kepala Eksekutif Klarna Sebastian Siemiatkowski, seperti dikutip dari situs Channel News Asia, Selasa, 16 September 2025.

Menurut Siemiatkowski, perusahaan kebablasan menggunakan AI demi memangkas biaya operasional perusahaan, meningkatkan efisiensi, serta mempercepat pengambilan keputusan.

img_title Kebakaran Landa Sebuah Restoran di Melawai Jaksel, Satu Karyawan Terluka

Dalam praktiknya, Klarna memangkas ribuan karyawan, hingga menghentikan kerja sama dengan vendor seperti Salesforce karena ingin beralih ke AI untuk membuat kampanye pemasaran.

Siemiatkowski mengaku, memangkas karyawan menjadi 3.800 orang dari sebelumnya 5.000 orang pada tahun lalu. Namun PHK ditaksir berlanjut seiring dengan gencarnya penggunaan AI di Klarna.

Fintech ini kemudian mengerahkan chatbot AI untuk melayani berbagai pertanyaan pelanggan. Chatbot ini bekerja menggantikan sekitar 700 karyawan sebelumnya.

Kinerja alat AI Klarna terbilang gesit, dengan waktu penyelesaian rata-rata dua menit dari sebelumnya 11 menit.

Pada Mei 2025, Klarna juga memanfaatkan avatar AI untuk Siemiatkowski, agar dapat memaparkan pendapatan kuartalan perusahaan.

Bahkan, avatar ini juga dipakai di layanan hotline, sehingga pelanggan seolah berbicara dengan bos Klarna sungguhan, karena dilatih dengan suara, wawasan serta pengalaman Siemiatkowski.

Secara umum, upaya itu memang menghemat anggaran perusahaan hingga sekitar US$2 juta (Rp32,7 miliar).

Namun, penggunaan AI ternyata tidak begitu membantu meningkatkan produktivitas Klarna maupun kualitas produk bagi pelanggan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Kami mungkin cukup berlebihan (pakai AI), sehingga dalam enam bulan terakhir kami mencoba memperbaikinya. Nilai penghematan yang dihasilkan AI tadi juga tidak begitu berarti bagi investor. Mereka (investor) tidak akan senang begitu saja. Mereka pasti mengharapkan pertumbuhan dan melihat apa yang kami tawarkan ke pelanggan serta bagaimana kinerjanya," jelas dia.

Kini, Klarna memasang lebih dari dua lusin lowongan pekerjaan untuk merekrut karyawan lagi. Siemiatkowski juga menekankan lebih fokus pada peningkatan produktivitas dan meningkatkan kualitas produk bagi pelanggan dan klien.

Ilustrasi AI

AI Memberi Guru Ruang untuk Bereksperimen Belajar Siswa

AI membantu guru bereksperimen dengan metode belajar kreatif, menyesuaikan materi dengan kebutuhan siswa, dan meningkatkan interaksi kelas, tanpa mengabaikan peran guru.

img_title
VIVA.co.id
3 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut