Studi Prudential: Biaya Kesehatan Jadi Salah Satu Sumber Stres

apa itu asuransi kesehatan
Sumber :
  • pexels.com

Jakarta, VIVA – Chief Health Officer Prudential Indonesia Yosie William Iroth mengatakan, meski akses kesehatan di Indonesia telah meningkat signifikan, pasien masih menghadapi tantangan yang menghambat mereka mendapatkan perawatan yang dibutuhkan.

img_title Biaya Servis HP Makin Mahal? Kenali Kerusakan yang Masih Bisa Diperbaiki Tanpa Ganti Komponen

Hal tersebut merupakan hasi dalri survei yang dilakukan perusaan bertajuk ‘Studi Prudential - Suara Pasien Indonesia: Terhimpit di antara Kebutuhan Perawatan, Biaya, dan Kejelasan Informasi’.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Studi tersebut menegaskan perlunya sistem layanan kesehatan yang dapat meminimalkan gangguan pada kehidupan sehari-hari. 

img_title Prabowo Tugaskan Airlangga Pangkas Biaya Logistik, Targetkan Turun Jadi 12,5 Persen pada 2029

“Memberikan kepastian biaya sejak awal, serta menyediakan informasi yang andal dan mudah dipahami agar pasien merasa percaya diri untuk segera mencari perawatan ketika dibutuhkan," ujar Yosie dikutip dari keterangannya, Kamis, 18 September 2025.

Yosie menambahkan bahwa kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan distribusi dokter yang belum merata juga menjadi tantangan tersendiri. Salah satu dampak yang paling nyata dari ketidakmerataan ini adalah 77 persen pasien merasa tidak mudah untuk menemui dokter, mulai dari sulitnya membuat janji temu, antrean panjang, hingga hambatan akses lainnya.

img_title Lonjakan Biaya Medis di Industri Kesehatan Ingatkan Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Berkala

“Kendala tersebut bukan hanya menunda perawatan, tetapi juga mengganggu pekerjaan, aktivitas rumah tangga, serta tanggung jawab lainnya,” tambahnya.

Survei tersebut dilakukan Prudential Indonesia dan Prudential Syariah merilis temuan survei bekerja sama dengan Economist Impact, berjudul

Laporan ini merupakan bagian dari studi yang lebih luas yang diinisiasi oleh Prudential plc: “Suara Pasien: Pengalaman Akses Layanan Kesehatan di Asia”, yang dilakukan di empat negara: Hong Kong, Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Studi ini melibatkan lebih dari 4.200 responden dan meneliti pengalaman pasien dalam mengakses layanan kesehatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Indonesia, survei ini mengungkap temuan mengejutkan: 9 dari 10 responden (hampir 93 persen) mengaku menunda perawatan atau mencari layanan kesehatan, dan hampir setengahnya (44 persen) menyatakan mereka berulang kali menunda pengobatan. Penundaan tersebut terutama dipengaruhi oleh tiga faktor utama.

Pertama, kurangnya informasi kesehatan yang jelas: Lebih dari setengah responden menyatakan tidak memiliki informasi medis yang mereka butuhkan, sehingga ragu atau tidak tahu ke mana harus mencari opini kedua maupun informasi medis. Hampir 44 persen responden mengatakan tidak memperoleh informasi yang mereka perlukan saat bertemu dokter terkait diagnosis.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut