Penetrasi Pindar di Luar Jawa Masih Rendah

Ilustrasi pinjaman daring (pindar) disetujui.
Sumber :
  • istockphoto.com

Jakarta, VIVA – Industri pinjaman daring (pindar) memainkan peran penting dalam mendorong inklusi keuangan di Indonesia.

img_title Karhutla Jadi Tantangan Operasional Dunia Usaha, Biaya dan Logistik Ikut Terdampak

Hal ini disampaikan Bernardino Moningka Vega, wakil ketua umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kamar Dagang dan Industri (Kadin).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, pindar menjadi pintu masuk bagi 132 juta penduduk dan 46 juta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang selama ini belum terlayani oleh layanan keuangan formal.

img_title Bahlil Pertimbangkan Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga, WKU Kadin: Langkah yang Sangat Tepat!

“Kemudahan dan kecepatan akses pembiayaan melalui fintech lending atau pindar menjadi solusi bagi masyarakat maupun UMKM yang membutuhkan, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” kata pria yang juga petinggi AdaKami.

Kondisi ini sejalan dengan hasil studi terbaru berjudul 'Financial Inclusion in the Digital Age: New Insights From Indonesia Credit Bureau Data'.

img_title Ketua DPD Kasih Bocoran soal RUU Kadin: Dalam Waktu Sesingkat-singkatnya Akan Dibereskan

Studi tersebut menunjukkan bahwa banyak peminjam pertama kali mengakses kredit melalui platform fintech. Hal ini menegaskan peran penting pindar dalam menjangkau kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak tersentuh sistem perbankan tradisional.

Meski demikian, Bernardino menekankan bahwa pertumbuhan industri harus sejalan dengan peningkatan inklusi keuangan di seluruh wilayah Indonesia.

Ia mencatat penetrasi pindar di luar Jawa masih relatif rendah, yaitu 32 persen di pedesaan dibanding 49 persen di wilayah metropolitan.

Untuk memperluas jangkauan, beberapa faktor menjadi kunci, termasuk integrasi dengan biro kredit, penetrasi internet dan telepon seluler, regulasi yang kuat, serta kolaborasi antar pihak terkait.

Selain akses yang luas, Bernardino juga menekankan pentingnya pelindungan konsumen. Penyaluran pembiayaan, menurutnya, harus dilakukan sesuai standar yang jelas dan praktik etis.

“Pertumbuhan industri tidak hanya diukur dari volume transaksi atau profit, tetapi juga dari kenyamanan dan keamanan konsumen,” jelas wakil ketua umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia menambahkan menyadari hal tersebut industri berkomitmen untuk terus meningkatkan standar layanan sesuai regulasi yang berlaku, sehingga pertumbuhan pindar dapat berlangsung berkelanjutan sambil tetap melindungi konsumen.

Dengan langkah ini, harapannya pindar tidak hanya menjadi solusi pembiayaan cepat, tetapi juga strategi penting dalam memperluas akses keuangan bagi masyarakat dan UMKM di seluruh Indonesia.

Kadin Indonesia menyoroti 44,5 persen pelaku usaha yang mengaku belum siap menghadapi bencana alam dan cuaca ekstrem.

Hampir Separuh Pengusaha Tak Siap Hadapi El Nino dan Karhutla, Kadin Minta Pemerintah Bergerak

Kadin mencatat 44,5 persen pengusaha belum siap menghadapi bencana alam. Fahrul Fulvian mendesak penguatan peringatan dini di tengah ancaman El Nino dan karhutla.

img_title
VIVA.co.id
23 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut