Amankah Kandungan Etanol dalam BBM? Pakar Kasih Penjelasan

Ilustrasi BBM
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VIVA – Adanya kandungan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) ditegaskan kini menjadi tren global. Hal tersebut dalam upaya mendorong transisi energi bersih dan menekan emisi karbon di sektor transportasi.

img_title Selisih Harga BBM RON 92 di Empat SPBU, Ini Perbandingannya

Banyak negara maju hingga berkembang telah mengadopsi kebijakan campuran etanol dalam bensin sebagai langkah konkret mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan, Amerika Serikat telah lama menggunakan campuran etanol dalam bensin melalui tiga varian utama: E10 (10% etanol), E15 (15% etanol), dan E85 (85% etanol).  Bahkan, E10 menjadi standar nasional karena terbukti mampu menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa mengorbankan performa mesin kendaraan.

img_title Harga BBM Terbaru 1 November 2026 di Semua SPBU

Fenomena serupa juga terjadi di Eropa dan Asia. Uni Eropa tengah mengkaji penerapan bensin E20 atau campuran 20 persen etanol yang diproyeksikan mampu menekan emisi karbon hingga 6 persen dibandingkan E10. Menurut EU Research & Innovation, kebijakan tersebut masih diuji karena memerlukan kesiapan pasokan bioetanol dan adaptasi teknologi kendaraan.

Ilustrasi bioetanol.

Photo :
  • Ken Research

img_title Bikin Khawatir! 525 Ton Beras Fortifikasi Diduga Tak Sesuai Kandungan Gizi, Ini Merek-mereknya

“Kalau kandungan etanolnya hanya 3,5 persen, energi yang turun hanya sekitar 1%. Artinya daya mesin hanya berkurang sekitar 1 persen, dan itu tidak akan terasa dan tidak berpengaruh ke konsumsi bahan bakar maupun tarikan (performa) kendaraan,” ujar Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB, Tri Yus Widjajanto, Rabu, 8 Oktober 2025.

Menurut Tri, kandungan etanol sebesar 3,5 persen dalam BBM Pertamina sudah tergolong aman dan sesuai standar internasional. Ia menegaskan, teknologi kendaraan modern telah mampu menyesuaikan diri dengan bahan bakar campuran etanol tanpa menimbulkan efek negatif.

Sementara itu, Argus Media mencatat peningkatan signifikan konsumsi bensin E10 di Jerman, didorong harga yang kompetitif dan penerimaan publik terhadap bahan bakar ramah lingkungan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di Asia, India menjadi negara berkembang yang paling agresif mendorong penggunaan bioetanol. Berdasarkan data Press Information Bureau (PIB) Pemerintah India, negara tersebut menargetkan implementasi campuran E20 (20% etanol) pada tahun 2025. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi impor minyak mentah sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani tebu dan pelaku industri biomassa.

Laporan International Energy Agency (IEA) bertajuk Renewables 2023 juga mencatat lonjakan permintaan biofuel di negara berkembang seperti Brasil, Indonesia, dan India. IEA memperkirakan konsumsi etanol global akan terus tumbuh seiring masifnya upaya dekarbonisasi transportasi dunia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut