Wamenkomdigi: Jurnalis Masih Lebih Hebat dari AI

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.
Sumber :
  • Dok. Kemenkomdigi

Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan bahwa jurnalisme berkualitas tidak akan pernah bisa digantikan oleh mesin, meski di tengah gempuran teknologi seperti kecerdasan buatan (AI).

img_title Pencarian Jurnalis yang Hilang Saat Liput Erupsi Anak Krakatau Dihentikan, Alasannya Sudah Tak Efektif

Menurutnya, di tengah pesatnya AI di newsroom, kemampuan berpikir kritis, etika, dan empati manusia menjadi benteng terakhir menjaga kualitas informasi publik.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Good journalism itu diramu oleh tiga elemen penting, yaitu critical thinking, skill, dan ethics. Kalau critical thinking ini tergerus oleh penggunaan AI, itu bahaya serius untuk jurnalisme berkualitas,” katanya di Jakarta, Kamis, 9 Oktober 2025.

img_title Hari ke-10 Pencarian Jurnalis yang Hilang, Tim SAR Sisir Pencarian ke Wilayah Ini

Nezar Patria menyoroti hasil riset ‘Thomson Reuters Foundation’ bertajuk “Journalism in the AI Era” yang menunjukkan 80 persen media di negara berkembang sudah menggunakan fitur AI dalam pekerjaan sehari-hari.

Namun, hanya 13 persen yang memiliki panduan resmi penggunaan AI.

img_title Pencarian 5 Jurnalis Hilang Masuk Hari ke-9, Jenazah Tanpa Identitas Ditemukan di Pulau Enggano

“Artinya, mayoritas newsroom di dunia belum punya kebijakan yang jelas. Kurangnya transparansi dalam membedakan konten yang dihasilkan manusia dengan mesin bisa menggerus kepercayaan publik terhadap pers,” jelas dia.

Lebih lanjut, Wamenkomdigi mengapresiasi langkah Dewan Pers yang pada awal 2025 telah mengeluarkan panduan penggunaan AI di media.

Panduan tersebut mengatur penggunaan AI secara transparan, etis, dan bertanggung jawab, termasuk mekanisme penyelesaian sengketa atas konten berbasis AI.

Nezar Patria juga menyampaikan bahwa Kemkomdigi tengah memfinalisasi dua dokumen penting, yaitu Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional dan kebijakan keamanan serta keselamatan penggunaan AI yang akan ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres).

“AI harus diperlakukan sebagai mitra, bukan pengganti manusia. Kita harus AI-aware. Sadar bahwa kita menggunakan AI, tapi tetap mampu mengambil jarak. Jangan sampai kita diatur oleh AI,” tegasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Wamenkomdigi juga mengingatkan esensi profesi jurnalistik yang tidak bisa digantikan teknologi.

“Mesin tidak punya nurani, empati, dan pengalaman hidup. Kualitas manusialah yang memungkinkan kita memahami konteks yang kompleks, merasakan dampak sebuah cerita, dan menjaga loyalitas mutlak kepada publik,” tutur dia.

Salesforce.

AI Koa Dirancang untuk Memahami Rumitnya Dunia Bisnis

Koa dirancang untuk membantu agen AI memahami alur kerja perusahaan yang kompleks, menjalankan tugas dalam beberapa tahap, serta memilih perangkat yang tepat untuk menyel

img_title
VIVA.co.id
18 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut