Aneh Tapi Nyata, Gen Z Ogah Naik Jabatan

Ilustrasi Gen Z
Sumber :
  • Freepik.com

Jakarta, VIVA – Generasi Z (gen Z) tidak mendambakan naik jabatan bahkan cenderung menolak promosi, terkecuali disertai kenaikan gaji atau jabatan yang 'bermakna'. Menurut gen Z, status sebagai bos bukan lagi simbol kesuksesan, melainkan beban tambahan yang justru mengancam keseimbangan hidup.

img_title Status Belum Layak KPR Jadi Kendala Pelaku UMKM dan Gen Z Punya Rumah, Simak Strateginya

Promosi atau naik jabatan menjadi 'simbol' kesuksesan karier seseorang. Gen Z lebih mementingkan stabilitas, keamanan, dan keseimbangan (work life balance) yang dikenal dengan istilah minimalis karier (career minimalism). 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gen Z fokus pada pekerjaan yang relatif aman, penghasilan stabil, dan memberikan waktu luang untuk kehidupan pribadi, hobi, atau proyek sampingan yang lebih bermakna. Pekerja muda juga menekankan batasan yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

img_title Didukung Tren Preferensi Gen Z 2026, Industri Wewangian Lokal Bisa Jadi Raja di Pasar Domestik

Dikutip dari Engoo pada Selasa, 14 Oktober 2025, survei terbaru dari situs pekerjaan, Glassdoor, menunjukkan sebanyak 68 persen pekerja gen Z tidak tertarik dengan posisi manajemen kecuali disertai tambahan gaji atau jabatan yang benar-benar bermakna. 

Ilustrasi pekerja.

Photo :
  • Istimewa

img_title Survei Median: MBG Jadi Program Pemerintah Paling Disukai, Publik Puas dengan Pemerintahan Prabowo-Gibran

Bagi gen Z, bos bukan tujuan utama karena profesi yang aman dan bisa diandalkan jauh lebih penting daripada mengejar 'status' di kantor. Tidak heran, semakin banyak anak muda memilih berkarier di sektor seperti kesehatan, pendidikan, pemerintahan, hingga bidang keahlian teknis.

"Saya selalu bercanda, saya tidak bermimpi tentang bekerja,” ungkap salah satu anggota komunitas Glassdoor. 

Perubahan pola pikir ini bukan tanpa alasan. Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di sektor teknologi dan keuangan membuka mata gen Z tentang betapa cepatnya pekerjaan bisa hilang. Sementara itu, kemunculan kecerdasan buatan (AI) menambah kecemasan soal masa depan dunia kerja. 

Kini, naik jabatan tidak lagi berarti jaminan masa depan. Posisi tinggi dianggap memberi beban tambahan karena jam kerja semakin panjang, waktu akhir pekan hilang, hingga risiko kelelahan mental (burnout).

Dibandingkan mengejar gaji tinggi dari posisi manajerial, separuh responden Glassdoor yang merupakan gen Z lebih memilih memiliki pekerjaan sampingan (side hustle). Mulai dari proyek kreatif, bisnis kecil, hingga menjadi pekerja lepas (freelancer).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menariknya, pekerjaan tambahan itu bukan sekadar cara menambah penghasilan. Profesi ini menjadi ruang untuk menyalurkan passion dan menemukan makna hidup di luar pekerjaan utama. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut