Ekonom: Risiko 'Outflow' Bakal Terkendali Jika BI Rate Dipangkas 25 bps

Gedung Bank Indonesia
Sumber :
  • Dok. VIVA.co.id

Jakarta, VIVA – Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede mengatakan, risiko arus keluar modal (outflow) relatif masih akan terkendali apabila BI Rate dipangkas sebesar 25 basis points (bps) menjadi 4,50 persen pada bulan Oktober 2025.

img_title Rupiah Menguat ke Rp 17.632 saat Pasar Respons Positif Pelantikan Destry dan Perang Iran-AS Kembali Memanas

"Risiko outflow cenderung relatif manageable untuk pemangkasan kecil (25 bps), asalkan dibarengi bauran kebijakan yang agresif," kata Josua, Rabu, 22 Oktober 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurutnya, langkah tersebut perlu diiringi dengan intervensi terukur menggunakan berbagai instrumen (multi-instrumen), baik di pasar spot maupun melalui Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF). Hal itu seperti yang dilakukan pada bulan sebelumnya, dan terbukti efektif menahan tekanan di pasar valas saat outflow besar.

img_title Kebijakan Moneter Tak Cukup Dorong Pertumbuhan Ekonomi RI, Destry Ungkap Strategi BI Lainnya

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede.

Photo :
  • Istimewa

Selain itu, Bank Indonesia (BI) juga perlu menjaga daya tarik instrumen berdenominasi rupiah jangka pendek, baik Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) maupun Surat Berharga Negara (SBN), melalui operasi pasar serta pemberian panduan imbal hasil yang jelas agar investor tidak melakukan aksi keluar secara bersamaan.

img_title Tak Merasa Istimewa Jadi Gubernur BI Perempuan Pertama, Destry Beri Contoh Sosok Kartini

Upaya stabilisasi juga dapat diperkuat dengan meningkatkan bantalan cadangan devisa melalui penarikan pinjaman atau penerbitan obligasi valas pemerintah yang telah direncanakan, sehingga dapat membantu menstabilkan ekspektasi pasar.

Di sisi lain, BI perlu menyampaikan narasi komunikasi yang jelas bahwa penurunan suku bunga ini merupakan langkah “kalibrasi” yang terukur, bukan pelonggaran tanpa batas. Bank sentral juga perlu menegaskan bahwa arah kebijakan selanjutnya akan tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi (data-dependent).

Josua menilai terdapat peluang untuk penurunan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,50 persen yang akan diumumkan dalam hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Oktober ini.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ruang kebijakan tersebut terbuka karena inflasi inti tetap terkendali dan tingkat suku bunga riil (real rate) masih cukup tinggi. Dengan BI-Rate 4,75 persen dan ekspektasi inflasi inti ke depan rendah, ruang memampatkan bunga riil masih ada tanpa mengorbankan stabilitas harga.

Permintaan domestik juga belum sepenuhnya pulih, sehingga penurunan suku bunga dapat membantu mendorong konsumsi dan kredit. Likuiditas perbankan yang membaik juga membuat transmisi kebijakan moneter semakin efektif, memungkinkan penurunan bunga lebih cepat tersalurkan ke sektor riil.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut