Neraca Dagang RI Surplus US$4,34 Miliar Per September 2025, BPS: 65 Bulan Beruntun

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini
Sumber :
  • [tangkapan layar]

Jakarta, VIVA – Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Pudji Ismartini melaporkan, neraca perdagangan barang Indonesia periode September 2025 mencatatkan surplus sebesar US$4,34 miliar.

img_title OJK Soroti Kesenjangan Pemanfaatan dan Pemahaman Keuangan Syariah! Literasi 43% Tapi Inklusi Baru 13%

Dia menambahkan, kinerja neraca perdagangan barang itu telah mencatat surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Pada September 2025, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar US$4,34 miliar, dan telah mencatat surplus selama 65 bulan berturut-turut sejak Mei 2020," kata Pudji dalam telekonferensi pers, Senin, 3 November 2025.

img_title Usai Terima Uang Rp55 M dari Taipan Tan Kian, Ferry Boboho Beberkan Pesan Febrie Adriansyah: 'Didinginkan'

Suasana kegiatan di terminal peti kemas (Foto ilustrasi).

Photo :
  • VIVA/M Ali Wafa

Surplus tersebut ditopang oleh ekspor pada September 2025 sebesar US$24,68 miliar atau naik 11,41 persen secara year on year (yoy), dengan impor pada periode yang sama yakni sebesar US$20,34 miliar atau naik 7,17 persen (yoy).

img_title Jumlah Penumpang Naik Transportasi Umum di Jakarta Naik pada September, Transjakarta Terbanyak

Pudji merinci, surplus di September 2025 ini ditopang oleh surplus pada komoditas non-migas yaitu sebesar US$5,99 miliar, dengan komoditas penyumbang surplus utamanya adalah lemak dan minyak hewani atau nabati (HS15), kemudian bahan bakar mineral (HS27), serta besi dan baja (HS72).

Pada saat yang sama neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$1,64 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak.

Sementara neraca perdagangan kumulatif Januari-September 2025, mencatat surplus US$33,48 miliar, ditopang komoditas non-migas sebesar US$47,20 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$13,71 miliar.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara neraca perdagangan kumulatif menurut mitra dagang, baik migas maupun non-migas mencatat, terdapat 3 negara penyumbang surplus terbesar yakni Amerika Serikat (AS) sebesar US$13,48 miliar, India US$10,45 miliar, dan Filipina sebesar US$6,54 miliar.

"Sedangkan negara penyumbang defisit terdalam adalah Tiongkok sebesar -US$14,32 miliar, Australia -US$4,01 miliar, dan dan Singapura sebesar -US$3,43 miliar," ujarnya.

B57+ Business Leaders Summit 2026 di Istanbul

Globalkan Produk Unggulan RI, Pemerintah Gencar Buka Akses Pasar Digital di Mancanegara

Pemerintah terus mendorong pengembangan kerja sama perdagangan digital antarnegara, untuk membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk unggulan nasional

img_title
VIVA.co.id
3 November 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut