Saham Mayoritas Starbucks Resmi Dijual

Starbucks.
Sumber :
  • Instagram

Jakarta, VIVA – Starbucks mengaku telah menjual 60 persen saham bisnisnya di China sebagai bagian dari kesepakatan senilai US$4 miliar (Rp67 triliun) dengan perusahaan investasi Boyu Capital.

img_title Ekonomi China Tumbuh di Bawah Target pada Kuartal III 2026, Apa Penyebabnya?

Berdasarkan perjanjian tersebut, seperti dikutip dari situs BBC, Selasa, 4 November 2025, jaringan kedai kopi terbesar di dunia akan memiliki 40 persen saham di operasi ritel China dan mempertahankan kepemilikan merek Starbucks di sana.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Starbucks memasuki China pada 1999, dan negara tersebut kini menjadi pasar terbesar kedua di luar AS, tetapi telah berjuang dalam beberapa tahun terakhir dengan bangkitnya merek lokal seperti Luckin Coffee.

img_title Terungkap Benda Langit Misterius di Kebun Sawit, BRIN Konfirmasi Teknologi Roket China

Bisnis ini akan tetap berkantor pusat di Shanghai dan akan memiliki dan mengoperasikan 8.000 gerai di pasar China, dengan rencana untuk tumbuh hingga 20.000 lokasi.

Kemitraan dengan Boyu Capital merupakan "tonggak penting" dan menandakan rencananya untuk pertumbuhan jangka panjang di China, kata Starbucks saat menetapkan valuasi US$13 miliar (Rp217 triliun) pada operasi ritelnya di negeri Tirai Bambu.

img_title Murka! China Perketat Pengujian Mobil Listrik, Tak Mau Konsumen Jadi Kelinci Percobaan

Kolaborasi ini "menggabungkan merek Starbucks yang diakui secara global, keahlian kopi, dan budaya yang berpusat pada mitra (karyawan) dengan pemahaman mendalam Boyu tentang konsumen China".

Starbucks juga berencana untuk memperkenalkan minuman baru dan platform digital di China, dan menambahkan bahwa kesepakatan itu akan diselesaikan tahun depan.

Boyu Capital adalah perusahaan ekuitas swasta yang berinvestasi di bisnis ritel, jasa keuangan, dan teknologi.

Perusahaan ini memiliki kantor di seluruh Asia, termasuk Shanghai, Hong Kong, dan Singapura.

Masa depan Starbucks di China tidak pasti selama berbulan-bulan setelah mantan bosnya Laxman Narasimhan mengatakan tahun lalu bahwa perusahaan sedang menjajaki "kemitraan strategis" untuk tetap kompetitif di ekonomi terbesar kedua di dunia.

Perjanjian ini menandai salah satu kesepakatan terbesar yang melibatkan operasi China dari perusahaan konsumen global dalam beberapa tahun terakhir.

Dalam beberapa tahun terakhir, penjualan Starbucks di China menurun akibat pandemi Covid-19, melambatnya belanja konsumen, dan persaingan yang ketat.

Luckin Coffee yang berkantor pusat di Beijing sekarang memiliki lebih banyak kedai di China daripada Starbucks dan telah memperoleh pengikut setia karena harganya yang lebih rendah dan diskon yang sering diberikan.

Starbucks juga telah memangkas harga di negara tersebut dalam upaya untuk bersaing dengan pesaing dalam negeri, tetapi hal ini berdampak pada keuntungannya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sejak diangkat sebagai kepala eksekutif Starbucks tahun lalu, Brian Niccol telah menjalankan misi untuk mengubah bisnis global.

Mantan bos Chipotle telah memimpin perombakan menu Starbucks, dan mengaku dirinya akan mempekerjakan lebih banyak barista sambil mengurangi upaya otomatisasi. Jaringan ini memiliki lebih dari 40.000 gerai di seluruh dunia.

Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri mendatangi kantor operasional perjudian online

Bareskrim Bongkar Judol Berkedok Spin Game, 4 WN China Ditangkap

Dittipidsiber Bareskrim Polri membongkar dugaan praktik perjudian online melalui situs Boxkia.com. Empat warga China jadi tersangka dalam kasus tersebut.

img_title
VIVA.co.id
21 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut