Jerman Terancam Gara-gara China
- AP Photo
“Saat situasi memuncak, pertanyaan besar adalah dari mana perusahaan pertahanan akan mendapatkan alternatif, dan kondisinya terlihat sangat suram,” tegas Kullik, yang mempelajari pentingnya bahan baku strategis untuk keamanan militer.
Membangun rantai pasok alternatif tanpa China akan memakan waktu bertahun-tahun, bahkan jika dimulai sekarang. “Kami melihat kebutuhan mendesak untuk bertindak agar kita lebih mandiri secara keseluruhan di Eropa,” kata Atzpodien.
Menurutnya, Uni Eropa harus membangun kapasitas pengolahan logam tanah jarang sendiri. “Ini akan membutuhkan penyederhanaan izin lingkungan yang relevan,” jelas dia.
Penambangan logam tanah jarang tergolong sulit, kaya limbah, dan berbiaya mahal. Sebanyak 17 elemen kimia ini sebenarnya tidak langka di kerak Bumi, tetapi cuma muncul dalam konsentrasi yang sangat rendah.
Artinya, diperlukan banyak jumlah batuan dan bijih untuk mengekstraknya, dan sering kali dibutuhkan bahan kimia untuk memisahkan elemen-elemen tersebut. Cadangan terbesar ditemukan di China, Vietnam, Brasil, Rusia, Australia, dan Greenland, tetapi juga di AS.
Namun, karena biaya yang tinggi, penambangan acap tidak menguntungkan bagi perusahaan. Sebabnya, banyak tambang di AS dan Australia yang terpaksa ditutup. Di sisi lain, China menyadari pentingnya logam tanah jarang sejak awal dan memperluas tambang, kilang, dan fasilitas pengolahannya.
Bagi pemerintah Jerman, tetapi juga bagi ekonomi negaranya, selalu lebih mudah mengandalkan impor logam tanah jarang. “Di masa lalu, kami senang menyerahkan pengolahan ke China, tetapi kini hal itu tidak lagi memungkinkan,” catat Asosiasi Industri Keamanan dan Pertahanan Jerman.
Seperti yang terlihat pada 2010, quasi-monopoli China memberikannya pengaruh geopolitik yang kuat. Karena sengketa wilayah di Laut China Timur, Beijing sempat menghentikan pasokan logam tanah jarang ke Jepang. Sejak peringatan tersebut, Jepang telah secara signifikan mengurangi ketergantungannya pada logam tanah jarang dari China.
Selama bertahun-tahun, Jerman menyadari bahwa akan lebih aman mendiversifikasi pasokan bahan baku kritis. Namun, sedikit yang telah dilakukan. “Pemerintah dan industri saling lempar tanggung jawab,” kata Kullik.
“Kementerian Ekonomi mengatakan, jika industri tidak melakukan apa-apa, kami juga tidak akan melakukan apa-apa. Dan industri mengatakan, jika situasinya tidak genting, maka kami tidak perlu menimbun pasokan dan tidak memerlukan intervensi pemerintah.”