China Sudah di Depan, AS Makin Ketinggalan

Kepala Eksekutif NVidia, Jensen Huang (dua kiri).
Sumber :
  • VIVA/Lazuardhi Utama

Jakarta, VIVA – Kepala Eksekutif Nvidia Jensen Huang mengingatkan bahwa China akan memenangkan perlombaan dalam mengembangkan kecerdasan buatan (AI) generasi berikutnya.

img_title Danantara Siap Umumkan Investasi AI dan Pusat Data di New Asia Forum 2026

Ia mendesak Amerika Serikat (AS) untuk mempercepat ketertinggalan. Bos perusahaan raksasa chip AS itu menyebut kalau subsidi energi Beijing menjadi faktor yang mendorong upayanya membangun semikonduktor mutakhir yang digunakan untuk mendukung teknologi AI.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"China akan memenangkan perlombaan AI. Seperti yang sudah lama saya katakan, China hanya tertinggal beberapa nanodetik di belakang AS dalam hal AI," kata Jensen Huang, seperti dikutip dari situs CNA, Kamis, 6 November 2025.

img_title Daya Beli Warga China Melemah, Tradisi Belanja Besar saat Festival Mulai Meredup

Nvidia, yang berkantor pusat di California minggu lalu, menjadi perusahaan teknologi pertama di dunia yang bernilai US$5 triliun (Rp83.530 triliun), meskipun kapitalisasi pasarnya telah surut sejak saat itu menjadi sekitar US$4,7 triliun (Rp78.518 triliun).

Chip Nvidia kelas atas – yang digunakan untuk melatih dan memberi daya pada sistem AI generatif – saat ini tidak dijual di China karena masalah keamanan nasional AS dan larangan Beijing.

img_title Danantara Siapkan Investasi Besar pada 2027, Mineral Kritis hingga AI Jadi Incaran

Awal pekan ini, Gedung Putih mengaku masih belum berminat mengizinkan Nvidia menjual model chip Blackwell yang canggih di China.

Amerika Serikat telah mengutip risiko memberi China keuntungan militer sebagai alasan pemblokiran tersebut.

Jensen Huang telah berulang kali mengajukan petisi kepada Washington untuk melonggarkan pembatasan pada ekspor chip Nvidia, dengan mengatakan bahwa kebijakan tersebut hanya akan membantu China memajukan teknologinya sendiri.

Pengusaha yang doyan mengenakan jaket kulit itu juga mengkritik aturan baru tentang AI yang diperkenalkan oleh negara bagian AS.

Ia membandingkannya dengan China di mana negara mensubsidi listrik untuk menggerakkan teknologi tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Negara-negara Barat termasuk AS dan Inggris terhambat oleh "sinisme" atas AI," tutur dia. Para ahli mengatakan bahwa pembuat chip China akan kesulitan untuk menandingi kecakapan teknologi Nvidia sebelum akhir dekade ini.

Tantangannya meliputi membangun perangkat lunak yang tepat untuk memanfaatkan kekuatan chip, dan meningkatkan peralatan manufakturnya.

Ilustrasi santri mengaji

Dari Kitab Kuning ke Kecerdasan Buatan, Bagaimana Santri Menghadapi Perubahan Zaman?

Santri menghadapi era kecerdasan buatan tanpa meninggalkan kitab kuning dan adab. Simak peluang AI, tantangan literasi digital, serta cara pesantren menyiapkan generasi.

img_title
VIVA.co.id
22 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut