Menperin Optimis Industri Lokal Masih Bisa Tumbuh dan Berekspansi, Ini Buktinya

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita
Sumber :
  • Istimewa

Jakarta, VIVA – Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, industri dalam negeri masih berpotensi tumbuh dan berekspansi lebih besar, dengan rata-rata utilisasi manufaktur yang berada di level 59,28 persen.

img_title Mendiktisaintek Dorong Penguatan Kepemimpinan Kampus, Riset hingga Industri Disorot

?Dia mengatakan, tingkat utilisasi industri pengolahan non-migas saat ini berada pada level 59,28 persen. Hal itu menandakan masih terbukanya ruang yang besar untuk berekspansi dan meningkatkan kapasitas produksi nasional sampai pada titik optimumnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Supaya bisa mencetak PDB lebih besar lagi," kata Agus di Jakarta, Kamis, 6 November 2025.

img_title Anggota DPR: Pengawalan pasokan Gas Harus Hasilkan Dampak Nyata Bagi Dunia Usaha

Pekerja memeriksa kualitas lempengan baja panas di pabrik pembuatan hot rolled coil (HRC) PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon, Banten, Kamis, 7 Februari 2019.

Photo :
  • ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

Agus menjelaskan, dari rata-rata tingkat utilisasi, industri manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja yang terus menguat meski dihadapkan pada berbagai tekanan global.

img_title West Java Expo 2026 Catat Transaksi Rp 477,3 Miliar, Produk Jabar Tembus Pasar Global

?Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin menunjukkan, industri pengolahan non-migas (IPNM) tumbuh sebesar 5,58 persen secara year-on-year (yoy) pada kuartal III-2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,04 persen.

?Dari sisi pengeluaran, tingginya pertumbuhan manufaktur ditopang oleh ekspor dan investasi. Pada triwulan III 2025, ekspor nonmigas tumbuh sebesar 12,56 persen dan berkontribusi sebesar 85,21 persen terhadap total ekspor nasional.

Agus mengatakan, ?lima produk manufaktur telah menjadi komoditas andalan ekspor dengan pertumbuhan tertinggi pada kuartal III-2025 yakni lemak dan minyak hewan/nabati, besi-baja, mesin dan peralatan listrik, perhiasan dan permata, serta kendaraan dan bagiannya. Dimana masing-masing tumbuh sebesar 50,34 persen, 15,88 persen, 17,55 persen, 82,43 persen, dan 8,12 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

?"Produk manufaktur telah menjadi andalan dalam ekspor Indonesia keluar negeri. Hal ini tidak saja membuktikan daya saing perusahaan industri dalam negeri mampu bersaing dengan perusahaan industri negara lain, namun juga telah menjadi motor penggerak perekonomian. Pertumbuhan ekspor produk manufaktur pada kuartal ini juga terus berdampak terhadap surplus neraca dagang Indonesia," ujar Agus.

?Sepanjang periode Januari hingga September 2025, menurut dia, realisasi investasi di sektor ini mencapai Rp562,7 triliun. Angka tersebut terdiri dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp178,9 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp383,8 triliun. ?Dari sisi investasi, industri manufaktur menyumbang 37,73 persen terhadap total investasi nasional. Sementara untuk ekspor, kontribusinya bahkan mencapai 81 persen dari total ekspor.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut