Generative Fraud Ancam Industri, termasuk Sektor Kesehatan

Teknologi kecerdasan buatan (AI) meniru cara kerja otak manusia.
Sumber :
  • vstory

Jakarta, VIVA – VIDA, penyedia identitas digital dan pencegahan penipuan di Indonesia, menegaskan komitmennya untuk memperkuat keamanan dan kepercayaan digital nasional, seiring meningkatnya digitalisasi layanan publik, termasuk di sektor kesehatan.

img_title Usung AI hingga Energi Bersih, PLN Icon Plus Pamer Ragam Inovasi di Electricity Connect 2026

Niki Luhur, founder and group ceo VIDA, menekankan bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) menuntut cara baru dalam membangun kepercayaan digital.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“AI bisa menciptakan 'realitas palsu' yang semakin sulit dibedakan, identitas digital yang tervalidasi menjadi fondasi kepercayaan baru. VIDA hadir untuk membangun trust by design, mulai dari identitas hingga transaksi, memastikan setiap interaksi digital aman dan terpercaya dari ancaman AI,” katanya.

img_title AI Belum Bisa Gantikan Sentuhan Tangan Manusia

Transformasi digital di bidang kesehatan kini menjadi prioritas global. Berdasarkan data WHO (2023), lebih dari 60 persen negara telah mengintegrasikan strategi digitalisasi layanan kesehatan ke dalam kebijakan nasional.

Di Indonesia, upaya integrasi data pasien secara real-time tengah berjalan seiring agenda digitalisasi layanan publik.

img_title Laptop Tipis Makin Pintar Berkat Prosesor Baru Ini

Namun, setiap kemajuan digital juga membuka potensi risiko baru terhadap penyalahgunaan data dan identitas pribadi. 

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2024) mencatat kerugian akibat penipuan berbasis sosial dan OTP mencapai lebih dari Rp2,5 triliun, sementara VIDA Fraud Intelligence Report 2025 menunjukkan bahwa 97 persen organisasi di Indonesia pernah menjadi target social engineering.

Di era AI-powered phishing, mekanisme OTP yang dirancang tiga dekade lalu kian rentan disusupi. Fenomena ini menandai munculnya bentuk kejahatan baru: generative fraud, ketika teknologi AI digunakan untuk menciptakan identitas atau dokumen palsu yang sulit dibedakan dari aslinya.

Kasus deepfake di Asia Pasifik bahkan meningkat 1.550 persen dalam dua tahun terakhir (2022–2023), dengan modus seperti voice cloning dan video impersonation yang dapat menyamar sebagai tenaga medis atau pejabat untuk mengakses sistem kesehatan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di tengah situasi itu, VIDA hadir sebagai mitra strategis kepercayaan digital (digital trust enabler) yang memastikan hanya individu berwenang yang dapat mengakses data medis yang benar, kapan pun dan di mana pun.

"Kami memposisikan digital signature bukan hanya sebagai alat kepatuhan, tetapi sebagai infrastruktur kepercayaan yang mendukung berbagai lintas industri, termasuk sektor kesehatan, menjamin identitas, otorisasi, dan audit trail di seluruh ekosistem digital, mulai dari pendaftaran pasien di rumah sakit hingga persetujuan tindakan medis atau klaim asuransi," jelsa dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut