Jerman Waswas dengan Data Center Google

Data center.
Sumber :
  • Matrix NAP Info

Jakarta, VIVA – Raksasa internet Amerika Serikat (AS), Google, berencana menginvestasikan 5,5 miliar Euro (Rp108 triliun) untuk pembangunan pusat data (data center) di Jerman selama beberapa tahun ke depan.

img_title Penuhi Kebutuhan Pasar, NexAI Fokus Penuh Jadi Penyedia Infrastruktur Digital

Hal tersebut diumumkan langsung oleh Direktur Utama Google untuk Jerman, Philipp Justus. "Uang sebesar itu (Rp108 triliun) akan diinvestasikan dalam empat tahun ke depan," katanya, seperti dikutip dari situs DW, Jumat, 14 November 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dana tersebut dikucurkan untuk membangun pusat data (data center) baru di dekat kota Frankfurt dan perluasan pusat data yang telah ada sebelumnya di beberapa kota di Jerman, München, Frankfurt, dan Berlin.

img_title Apple dan Google Tunduk sama Donald Trump, Ganti nama Danau Ontario jadi Amerika

Pemerintah Jerman menyambut antusias pengumuman tersebut yang sejalan dengan ambisi Jerman dalam digitalisasi. "Kami ingin membuat Jerman menjadi lokasi terkemuka untuk data center Eropa,” ungkap Menteri Keuangan (Menkeu) Jerman, Lars Klingbeil.

Ia juga menyebut initiatif Google sebagai 'Investasi yang tulus untuk masa depan - dalam inovasi, kecerdasan buatan (AI), transformasi ramah iklim dan pekerjaan masa depan di Jerman'.

img_title Google Tidak Berkutik di Rusia

Google menyebut investasi tersebut akan membuka sekitar 9.000 pekerjaan di Jerman per tahun hingga 2029. Ketika banyak yang merayakan kabar investasi tersebut, beberapa pakar memperingatkan untuk tetap waspada akan ketergantungan yang ditimbulkan.

Katharina Hölze, direktur Fraunhofer Institute di Stuttgart, Jerman, mengatakan kepada DW bahwa investasi tentu hal yang baik dan dapat diterima "hal tersebut menunjukkan Jerman memiliki daya tarik melebihi dugaan".

Namun, ia turut menyampaikan kekhawatirannya akan "ketergantungan yang kian meningkat,” memperingatkan bahwa "dengan Google membangun infrastruktur tambahannya di sini, sulit bagi Jerman untuk melepas ketergantungan di kemudian hari”.

Wolfgang Eppler, peneliti di Institut Penilaian Teknologi dan Analisis Sistem (ITAS) di Karlsruhe, Jerman, menyebut meski investasi tersebut "berjumlah besar,” namun jumlah tersebut masih jauh di bawah level belanja AS.

"Jika melihat apa yang diinvestasikan AS untuk teknologi dalam negeri, contohnya ada yang mencapai US$500 miliar (Rp9.718 triliun), investasi (ke Jerman) ini benar-benar hanya 'setetes air di lautan luas',” jelasnya.

Skala investasi Google ini menegaskan kesenjangan besar antara Eropa dan AS, di mana perusahaan teknologi seperti Microsoft, Google, dan startup seperti OpenAI menanamkan ratusan miliar dolar AS untuk memperluas kapasitas komputasi AI.

Menurut Bloomberg, proyek Google di Jerman diperkirakan akan menggunakan hingga 10.000 unit pemrosesan grafis (GPU), yang hanya sebagian kecil dibandingkan 500.000 GPU yang direncanakan untuk satu proyek pusat data di Texas yang didukung oleh SoftBank, OpenAI, dan Oracle.

Menurut asosiasi industri Bitkom, total investasi pusat data di Jerman diperkirakan mencapai sekitar 12 miliar Euro (Rp233 triliun) tahun ini. Pada September 2025, perusahaan Prancis Data4 mengumumkan rencana investasi sekitar 2 miliar Euro (Rp38 triliun) dan mendirikan fasilitas pusat data pertamanya di Hanau, Jerman.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sementara itu, Innovation Park for Artificial Intelligence (IPAI) di Heilbronn, di utara kota Stuttgart, akan menjadi ekosistem AI terbesar di Uni Eropa fokus pada desain chip.

Lonjakan permintaan komputasi berbasis AI telah memicu peningkatan masif pembangunan pusat data. Studi terbaru Bitkom menemukan bahwa total kapasitas server Jerman diperkirakan hampir dua kali lipat menjadi 5 gigawatt pada 2030.

Ilustrasi tambang minyak dan gas.

Jerman Nekat Putus Gas Alam Rusia, Rp1.020 Triliun Melayang

Jerman telah menghabiskan 50 miliar Euro (Rp1.020 triliun) untuk meredam dampak kenaikan harga energi setelah memangkas impor gas alam Rusia pada 2022.

img_title
VIVA.co.id
12 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut