Green Mining Bukan Mimpi Lagi

Ilustrasi ekonomi hijau.
Sumber :
  • freepik.com/jcomp

Jakarta, VIVA — Kepala Eksekutif Sun Energy Emmanuel Jefferson Kuesar menegaskan transformasi menuju green mining bukan hanya pergantian sumber energi, tetapi perubahan pondasi operasional.

img_title Pembangunan PLTS 100 GWp Dinilai Ciptakan Kemandirian Energi hingga Ekonomi

“Ini tentang membangun industri tambang yang efisien, rendah emisi, dan berketahanan jangka panjang. Kami siap menjadi katalis transformasi melalui inovasi energi bersih,” kata dia, Jumat, 14 November 2025.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tak heran jika Sun Energy semakin agresif mendorong transformasi industri pertambangan menuju praktik green mining dengan menghadirkan solusi energi bersih dan terintegrasi.

img_title Prabowo: Penyelewengan Korupsi Harus Diberantas Sampai ke Akar!

Sebab, langkah ini akan memperkuat peran perusahaan sebagai mitra strategis dalam dekarbonisasi sektor tambang, yang dikenal sebagai salah satu industri dengan konsumsi energi terbesar di Indonesia.

Melalui penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), sistem Battery Energy Storage System (BESS), elektrifikasi armada tambang, hingga pengelolaan air berkelanjutan, Sun Energy menargetkan percepatan peralihan operasi tambang menuju sistem rendah emisi tanpa mengurangi reliabilitas operasional.

img_title Dorong Swasta Garap PLTS 100 GWp, Bahlil: Kalau Harganya Kompetitif, Kami Kasih ke IPP!

Hingga saat ini, solusi energi bersih SUN Energy telah diimplementasikan di lebih dari 15 lokasi tambang, termasuk proyek PLTS dengan Containerized BESS pertama di Indonesia bersama PT Cipta Kridatama, serta inovasi Solar PV Roll Up di PT Berau Coal yang dapat dibongkar-pasang dan dipindahkan antar lokasi.

Menurut Kuesar, mayoritas area tambang di Indonesia masih bersifat off-grid dan bergantung pada genset diesel yang menyumbang 25–40 persen biaya operasional. Pada area dengan kebutuhan energi tinggi, angkanya bahkan bisa mendekati 50 persen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Sun Energy menawarkan sistem PLTS-BESS terintegrasi yang mampu menyediakan pasokan listrik andal 24 jam, menekan konsumsi bahan bakar, serta mengurangi biaya logistik energi.

"Energi surya yang dihasilkan siang hari dapat disimpan dan digunakan pada malam hari, menghadirkan efisiensi signifikan bagi perusahaan tambang," jelas dia.

Melalui Sun Mobility, perusahaan memperluas langkah dekarbonisasi dengan menghadirkan layanan Fleet-as-a-Service (FaaS) berbasis kendaraan listrik (EV).

Elektrifikasi kendaraan operasional terbukti mengurangi emisi gas buang sekaligus menekan biaya perawatan. Mulai akhir 2025, puluhan armada EV dijadwalkan beroperasi di salah satu perusahaan tambang besar Indonesia.

Melengkapi itu, NIRA – bagian dari ekosistem Sun Group – menghadirkan teknologi pengelolaan air berkelanjutan, termasuk sistem ultrafiltrasi dan reverse osmosis yang diterapkan di PT Berau Coal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Teknologi ini memungkinkan daur ulang air proses untuk menekan konsumsi air baru dan menjaga ekosistem sekitar area tambang.

“Dengan menggabungkan PLTS, BESS, elektrifikasi armada, dan pengelolaan air berkelanjutan, Sun Energy menempatkan dirinya sebagai penyedia sustainability-as-a-service yang mampu mendukung industri tambang bertransformasi menuju operasi hijau, efisien, dan berdaya saing global,” ucap Kuesar.

PLTS di China

China Mulai Tinggalkan Batu Bara, Mobil Listrik Makin Ramah Lingkungan

China sedang mengalami perubahan besar dalam sistem energinya setelah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya untuk pertama kalinya melampaui PLTU batu bara.

img_title
VIVA.co.id
8 September 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut