Prancis Lagi Memelas ke China supaya Tidak Keras

Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Sumber :
  • Bloomberg/Krisztian Bocsi

Jakarta, VIVA – Presiden Prancis Emmanuel Macron akan melakukan perjalanan ke China pada pekan ini. Kunjungan tersebut bertujuan menurunkan tensi panas di tengah ancaman ekonomi dan keamanan dari Beijing.

img_title Parkir di Gang Sempit Bikin Keringat Dingin, Mobil Ini Punya Cara Sendiri

Sebab, sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, di mana Paris turut menggantungkan sektor perdagangannya di tengah gejolak perdagangan global.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut para analis, sebelumnya Macron telah berupaya menampilkan sikap tegas ketika bernegosiasi dengan China sambil berhati-hati agar tidak memicu ketegangan dengan Beijing yang terlihat semakin agresif dalam memperkuat posisinya hingga menguji hubungan perdagangan, keamanan, dan diplomatik.

img_title Prancis Bersiap Hadapi Gelombang Demonstrasi Baru, Macron Perketat Pengamanan

“Dia harus menegaskan kepada para pemimpin China bahwa Uni Eropa akan merespons peningkatan ancaman ekonomi dan keamanan dari Beijing, sambil mencegah eskalasi ketegangan yang bisa berujung ke perang dagang besar-besaran dan keretakan hubungan diplomatik. Ini pesan yang tidak mudah untuk disampaikan,” kata Noah Barkin, analis China dari Rhodium Group kepada Reuters, Rabu, 3 Desember 2025.

China mengguncang Uni Eropa

img_title Serikat Pekerja Umumkan Mogok Nasional, Prancis Tutup Museum dan Pusat Kebudayaan

Emmanuel Macron akan memulai kunjungannya dengan mengunjungi Forbidden City atau Kota Terlarang, Beijing, China, pada Rabu hari ini.

Keeesokan harinya, ia dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping. Kedua kepala negara tersebut juga dijadwalkan berjumpa dalam perjalanan menuju Chengdu, provinsi Sichuan, pada 5 Desember mendatang.

Kunjungan Macron ke China terjadi setelah kunjungan menegangkan Presiden Uni Eropa, Ursula von der Leyen, pada Juli 2025.

Saat itu, Ursula menyatakan bahwa relasi antara Uni Eropa dan China berada di tahap “titik balik” yang berpotensi berdampak pada perubahan besar.

Kunjungan Emmanuel Macron juga akan diikuti dengan kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Kanselir Jerman Friedrich Merz pada awal 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ketegangan hubungan dagang antara Uni Eropa dan China meningkat sejak ekspor murah negara Tirai Bambu tersebut, terutama sektor baja, tersingkir oleh pasar Amerika Serikat (AS).

Hal ini turut mengguncang sektor industri di Benua Biru. Uni Eropa pun khawatir dengan pertumbuhan tekonologi China, khususnya kendaraan listrik dan pengolahan mineral kritis, yang dapat mengancam pasokan bagi industri di sana.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut