Lapangan Kerja Kantoran Menyusut, Profesi Kerah Biru Jadi Opsi Baru Gen Z

Ilustrasi Pekerjaan dengan Gaji Dua Digit
Sumber :
  • Pexels.com

Jakarta, VIVA – Di tengah ekonomi tidak pasti, generasi muda dipaksa berpikir lebih realistis soal masa depan karier. Gelar sarjana tak lagi otomatis menjamin pekerjaan stabil, sementara biaya pendidikan terus melonjak. 

img_title Gen Z hingga Boomer, Begini Cara 4 Generasi Hadapi Krisis Keuangan

Situasi ini membuat Gen Z mulai mempertimbangkan ulang jalur karier yang selama ini dipandang sebelah mata. Salah satunya adalah pekerjaan kerah biru atau blue-collar, mulai dari teknisi otomotif, manufaktur, hingga konstruksi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Sektor-sektor tersebut justru menawarkan gaji tinggi dan stabilitas jangka panjang. Ironisnya, ketika minat mulai tumbuh, industri justru belum siap menyambut dan malah menciptakan jurang antara kebutuhan tenaga kerja dan generasi yang sebenarnya siap mengisi.

img_title 9 Pengeluaran yang Dianggap Gen Z Penting, tapi Dihindari Orang yang Tumbuh di Era 70-80an

Awal 2025, CEO Ford Jim Farley menyebut sebanyak 5.000 posisi mekanik di Ford tidak terisi, meski semuanya menawarkan gaji enam digit dolar AS atau setara lebih dari Rp1,67 miliar per tahun, jauh di atas rata-rata pendapatan pekerja Amerika.

Ford bukan satu-satunya. Selama lebih dari satu dekade, berbagai profesi kerah biru kesulitan menarik tenaga muda. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat lebih dari 400.000 pekerjaan terampil masih kosong, dan jumlah ini diperkirakan terus bertambah. 

img_title Game Gratis hingga Live Service, Ini Alasan Gen Z Punya Pola Bermain yang Berbeda

Sementara itu, Manufacturing Institute dan Deloitte bahkan memperkirakan 3,8 juta pekerja tambahan akan dibutuhkan dalam 10 tahun ke depan. Menurut Myriam Sullivan, Direktur Senior di Jobs for the Future’s Center for Apprenticeship & Work-Based Learning, krisis ini lahir dari “badai sempurna”, yaitu ketika tenaga kerja menua, stigma budaya terhadap pekerjaan kerah biru, serta persaingan ketat untuk tenaga terampil.

Ilustrasi industri manufaktur.

Photo :
  • freepik.com/freepik

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Meski stigma masih kuat, data menunjukkan perubahan sikap. Survei Harris Poll 2024 untuk Intuit Credit Karma mencatat 78 persen warga Amerika melihat meningkatnya minat anak muda terhadap pekerjaan berbasis keterampilan. Lonjakan biaya kuliah membuat Gen Z, yang sudah dibayangi utang pendidikan, lebih tertarik pada karier bergaji tinggi tanpa harus menempuh kuliah empat tahun. 

Data National Student Clearinghouse menunjukkan pendaftaran community college berbasis vokasi naik 16 persen dalam setahun, sementara jumlah Gen Z yang belajar bidang konstruksi melonjak 23 persen pada 2022–2023.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut