Konflik di Venezuela Tak Picu Krisis Panjang, Ringgit Menguat Lawan Dolar AS

Ringgit Malaysia
Sumber :
  • The Star

Jakarta, VIVA – Pergerakan nilai tukar mata uang Asia kembali menjadi sorotan pada awal 2026, seiring investor global mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Setelah sempat terjadi lonjakan permintaan safe haven, pasar mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi. 

img_title Ledakan Terdengar di Iran saat Negosiasi dengan AS Berlangsung, Apa yang Terjadi di Selat Hormuz?

Kondisi ini membuka ruang bagi mata uang emerging market untuk kembali menguat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di kawasan Asia Tenggara, ringgit Malaysia mencatatkan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat. Sentimen risiko yang membaik, ditopang oleh persepsi bahwa ketegangan geopolitik masih relatif terkendali, mendorong arus modal kembali mengalir ke aset berimbal hasil lebih tinggi. 

img_title Perang AS-Iran Masuk Bulan Kesembilan, Vance Ungkap Syarat Damai soal Nuklir

Situasi ini tercermin pada pergerakan ringgit pada perdagangan Selasa pagi, 6 Januari 2026. Melansir dari The Star, ringgit dibuka sedikit lebih tinggi terhadap dolar AS pada Selasa, ketika investor menilai perkembangan situasi Amerika Serikat dan Venezuela. 

Lonjakan awal permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven tercatat tidak berlangsung lama, seiring risiko geopolitik yang dinilai masih terkendali. Pada pukul 08.00 waktu setempat, mata uang lokal menguat ke level 4,0650/0745 terhadap dolar AS, dibandingkan penutupan Senin di level 4,0695/0745.

img_title Rupiah Gagal Menguat Meski Neraca Dagang Surplus, Ini Penyebabnya

Direktur strategi investasi dan ekonom negara IPPFA Sdn Bhd, Mohd Sedek Jantan, mengatakan stabilnya sentimen risiko mendorong rotasi arus modal kembali ke mata uang emerging market dan aset berimbal hasil lebih tinggi.

“Semalam, dolar AS awalnya didukung oleh berita geopolitik dan sinyal bank sentral global, tetapi momentumnya memudar. Indeks dolar AS turun 0,17 persen ke level 98,26 pada akhir perdagangan, membuatnya hanya sedikit lebih tinggi secara year to date,” ujarnya. 

Menurutnya, penguatan ringgit turut diperkuat oleh rebound Asia Dollar Index, yang mencerminkan kembalinya minat investor terhadap mata uang emerging market seiring meningkatnya toleransi risiko.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pelemahan indeks dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang mendukung penguatan ringgit. Setelah sempat menguat akibat dorongan sentimen safe haven, dolar AS kehilangan momentum ketika pasar menilai bahwa dampak geopolitik global belum berkembang menjadi risiko sistemik yang lebih luas.

Penurunan indeks dolar AS ke level 98,26 menunjukkan bahwa investor mulai mengurangi posisi defensif mereka. Dalam kondisi seperti ini, mata uang emerging market cenderung mendapatkan dukungan, terutama ketika imbal hasil yang ditawarkan dinilai lebih menarik dibandingkan aset aman.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut