Menikah Tanpa Anak Jadi Tren, Fenomena DINK Menguat

Ilustrasi bekerja dengan pasangan
Sumber :
  • www.istockphoto.com

Jakarta, VIVA – Perubahan pola hidup dan prioritas generasi muda semakin memengaruhi struktur keluarga di berbagai negara. Pernikahan tidak lagi selalu identik dengan memiliki anak, terutama di kalangan pasangan urban berpendidikan. 

img_title Anak Takut ke Dokter Gigi? Begini Tips Mengenalkan Perawatannya Sejak Dini

Di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup yang meningkat, dan tuntutan karier, sebagian pasangan memilih jalan hidup yang berbeda dari norma tradisional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena tersebut dikenal dengan istilah DINK, singkatan dari Dual Income No Kids atau pasangan dengan dua penghasilan tanpa anak. Tren ini tidak hanya muncul di negara maju seperti Amerika Serikat, tetapi juga semakin terlihat di Asia, termasuk China, yang kini tengah menghadapi tantangan demografi serius akibat menurunnya angka kelahiran.

img_title Terungkap! Peran Ibu Kandung dan Ayah Tiri dalam Pembunuhan Bayi 20 Bulan di Toilet Umum Pasar Kebayoran Lama

Di Amerika Serikat, tren DINK menunjukkan peningkatan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan analisis data federal oleh Pew Research Center, sebanyak 12 persen pasangan menikah dengan setidaknya satu pasangan berusia 30 hingga 40-an tahun tergolong DINK. 

Angka ini naik dibandingkan 2013, ketika hanya 8 persen pasangan menikah di kelompok usia yang sama masuk kategori tersebut. Pew Research juga mencatat bahwa proporsi pasangan dengan dua penghasilan yang memiliki anak ikut meningkat tipis sejak 2013. 

img_title Terungkap! Cara Keji Ibu Kandung dan Ayah Tiri Habisi Bayi 20 Bulan di Toilet Umum Pasar Kebayoran Lama

Sebaliknya, porsi pasangan dengan satu penghasilan dan memiliki anak justru turun signifikan, dari 34 persen menjadi 27 persen. Data ini mencerminkan perubahan struktur keluarga dan meningkatnya peran dua pencari nafkah, sekaligus menunjukkan bahwa keputusan untuk memiliki anak semakin selektif. 

ilustrasi perencanaan finansial dengan pasangan

Photo :
  • freepik.com/user12978850

Sementara itu, di China, fenomena DINK muncul bersamaan dengan krisis demografi yang semakin nyata. Satu dekade setelah pemerintah menghapus kebijakan satu anak dan menerapkan kebijakan dua anak pada Januari 2016, populasi China justru terus menyusut selama tiga tahun berturut-turut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi populasi China dapat turun drastis dari sekitar 1,4 miliar saat ini menjadi 633 juta pada tahun 2100. Pada 2024, jumlah kelahiran hanya mencapai 9,54 juta, sekitar setengah dari jumlah kelahiran pada 2016. 

Kekhawatiran terhadap populasi yang menua dan menyusut pun kian meningkat, seiring makin banyak pasangan yang memilih menentang norma tradisional. Anak-anak muda yang menyebut dirinya dan pasangannya sebagai DINK, memilih untuk tidak memiliki anak atau menundanya. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut