Sergey Brin Geser Jeff Bezos di Daftar Orang Terkaya Dunia
- Istimewa
Brin, yang memegang lebih sedikit saham Alphabet kelas C, diketahui lebih aktif menjual saham Alphabet dan menyumbangkan jutaan saham Alphabet serta Tesla dalam beberapa tahun terakhir untuk riset penyakit Parkinson.
Sebagai catatan, saham Alphabet melonjak 65 persen sepanjang 2025, menjadi kenaikan tahunan terbesar perusahaan sejak 2009, ketika sahamnya melonjak hampir 93 persen.
Alphabet sendiri muncul sebagai salah satu pemimpin AI global pada 2025, bahkan ketika kekhawatiran soal valuasi berlebihan saham teknologi berbasis AI semakin menguat. Google merilis Gemini 3, versi terbaru model AI-nya, pada November dan mendapat sambutan luas.
Peluncuran tersebut dilakukan beberapa pekan setelah Google memperkenalkan Ironwood, chip AI generasi ketujuh, di tengah persaingan ketat dengan Nvidia.
Analis Citi menilai Alphabet sebagai salah satu pilihan utama untuk pertumbuhan 2026. Dalam catatan risetnya, Citi menyebut sekitar 70 persen pelanggan Google Cloud menggunakan produk AI, serta menegaskan Google memiliki “chip, kapasitas infrastruktur, dan model di tengah meningkatnya permintaan.”
Analis Cantor Fitzgerald Deepak Mathivanan juga menyebut Google memiliki “jejak terkuat” di antara perusahaan AI, dengan investasi selama satu dekade yang membuat para pesaing sulit mengejar.
Di tengah euforia pasar, muncul kembali perdebatan klasik, apakah AI merupakan masa depan atau sekadar gelembung baru. Namun, menurut penulis Forbes Books Cicely Simpson, perdebatan tersebut tidak relevan.
“Tidak penting apakah AI adalah gelembung atau terobosan,” tulis Simpson, sebagaimana dikutip dari Forbes, Jumat, 16 Januari 2026. “Transformasi tidak terelakkan. Pertanyaan yang relevan adalah bagaimana Anda memimpin transformasi tersebut.”
Ia menekankan bahwa kesalahan terbesar pemimpin adalah langsung fokus pada apa yang akan dilakukan tanpa menjelaskan alasan di balik perubahan. “Kejelasan mengurangi ketakutan, dan konteks membangun kepercayaan,” ungkapnya.