Bitcoin Ambruk ke Level Terendah, Analis Prediksi Terkoreksi Lebih Dalam Menuju US$70.000

Investasi kripto.
Sumber :
  • www.freepik.com/free-vector

Jakarta, VIVA – Aset kripto terguncang hebat akibat berbagai tekanan global yang menyebakan koin utama, Bitcoin (BTC), anjlok menyentuh level US$82.000 yang menjadi level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir. Analis memprediksi Bitcoin berpeluang terjun lebih dalam ke level US$70.000.

img_title Nasib Bitcoin di September 2026

Dikutip dari CoinGecko, Bitcoin sempat menyentuh titik rendah di angka US$82.134 sekitar Rp1,3 miliar (estimasi kurs Rp 16.770 per dolar AS) setelah terkoreksi tajam 7,4 per dalam 24 jam pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan pantauan VIVA di CoinMarketCap, Bitcoin terkokesi lebih jauh ke level US$81.834,94 pada Jumat, 30 Januari 2026, pukul 09.15 pagi. Bitcoin kemudian bangkit ke level US$ 84.120 pada Sabtu, 31 Januari 2026 pada pukul 03.00 pagi. 

img_title Blockchain Kini Tak Hanya untuk Kripto

Sampai tulisan ini dibuat, Bitcoin diperdangakan di harga US$83.009,97 atau menguat 0,53 persen dalam 24 jam terakhir. Sedangkan penurunan dalam tujuh hari membukukan dua digit, yakni 10,70 persen. 

Ilustrasi kripto.

Photo :
  • The Verge

img_title Investasi Bitcoin vs Emas, Mana yang Bikin Cepat Kaya? Begini Perbandingan Keuntungan dan Risikonya

Kepala Riset platform opsi on-chain Derive, Sean Dawson, menilai koreksi Bitcoin saat ini belum mencapai titik dasar. Bahkan, investor opsi mulai memasang posisi untuk skenario penurunan lanjutan ke kisaran US$70.000 hingga US$75.000.

Ia menyoroti UU Clarity Act yang tengah dibahas di Senat AS dinilai sebagai langkah positif dari sisi regulasi. Menurut Dawson, sentimen tersebut belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan harga Bitcoin dalam waktu dekat.
 
“Secara keseluruhan, saya memperkirakan awal Februari yang menyakitkan,” kata Dawson dikutip dari Decrypt pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Koreksi tajam  menyeret pasar kripto secara keseluruhan. Total kapitalisasi pasar kripto anjlok 6,7 persen, sementara likuiditas pasar menyusut hingga US$1,68 miliar atau setara lebih dari Rp28,1 triliun. 

Aksi jual besar-besaran memukul posisi trader, terutama di pasar derivatif. Tekanan terhadap Bitcoin semakin dalam setelah pasar bereaksi negatif terhadap arah kebijakan politik Amerika Serikat. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Trump mengusulkan Kevin Warsh, mantan Gubernur Federal Reserve (The Fed) yang dikenal sebagai inflation hawk, berpeluang menjadi ketua The Fed berikutnya memicu kekhawatiran investor.

“Pelaku pasar memperkirakan ketua berikutnya adalah Kevin Warsh, kritikus lama pelonggaran kuantitatif dan diduga sebagai sosok pro-pengetatan. Ini bersifat bearish bagi Bitcoin dalam jangka pendek,” ujar analis investasi Fisher8 Capital, Lai Yuen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut