Harga Emas Dunia Ambruk Lebih dari 8 Persen, Balik ke Level US$4.800
- ANTARA/Sergei Fadeichev/TASS
Jakarta, VIVA – Harga emas dunia mengalami penuruna tajam setelah mencetak rekor tertinggi berturut-turut dalam beberapa hari belakangan. Jenis logam mulai ini ambles lebih dari 7 persen hingga menembus ke bawah level psikologis US$5.000 per ons.
Dikutip dari CNBC Internasional pada Minggu, 1 Januari 2026, harga emas spot merosot 7,5 persen ke posisi US$4.992,05 atau sekitar Rp 83,73 juta (estimasi kurs Rp 16.770 per dolar AS) per ons pada pukul 09.47 GMT, Jumat, 30 Januari 2026. Penuruan masih terjadi hingga pada akhir pekan.
Melansir Gold Price, harga emas merosot sebesar 8,15 persen atau 434,15 poin menjadi US$4.893,2 atau sekitar Rp 82 juta per ons hingga pukul 12.47 WIB pada Minggu, 1 Februari 2026. Meski demikian, emas masih membukukan kenaikan sebesar 60,22 persen dalam 30 hari terakhir.
Kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Februari turut turun 6,4 persen ke level US$4.985 sekitar Rp 83,61 juta per ons. Penurunan tajam ini terjadi hanya sehari setelah emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$5.594,82 per ons pada Kamis, 29 Januari 2026.
Ilustrasi harga emas dunia.
- Istimewa
Harga emas dunia mencatat kenaikan lebih dari 15 persen sepanjang bulan Januari 2026. Lonjakan ini menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak tahun 1999 serta menandai kenaikan selama enam bulan berturut-turut.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai koreksi harga emas saat ini tergolong wajar setelah reli kuat dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyatakan tetap optimis terhadap emas dan memprediksi logam mulia ini berada dalam fase konsolidasi.
“Saya masih percaya ada sejumlah faktor pendukung emas yang tetap kuat. Namun, setelah reli signifikan dalam beberapa minggu terakhir, fase konsolidasi menjadi hal yang sehat,” ujar Staunovo.
Ia menambahkan, tekanan terhadap harga emas muncul seiring kabar penunjukan Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan pilihan untuk menggantikan Jerome Powell pada Jumat pekan depan. ,
Kevin Warsh disinyalir sebagai kandidat terkuat menjadi bos baru bank sentral AS. Warsh dikenal mendorong penyusutan neraca The Fed yang berlawanan dengan kecenderungan Trump terhadap kebijakan moneter longgar.
Penguatan dolar AS turut memperparah tekanan harga emas. Mata uang Negeri Paman Sam ini menujukkan kenaikan setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah dalam empat tahun.