Big Tech Bakar Duit Rp10.000 Triliun demi AI

Kepala Eksekutif Meta Mark Zuckerberg.
Sumber :
  • Deadline

Jakarta, VIVA – Gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan teknologi terbesar dunia memasuki level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fokus mereka kini bukan sekadar layanan digital, tetapi pembangunan pusat data raksasa dan infrastruktur komputasi berskala masif. 

img_title AI Bikin Minecraft Versi X dengan Multiplayer

Nilainya begitu besar hingga disebut sebagai era baru “zaman keemasan” industri teknologi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam laporan keuangan terbaru, Amazon, Alphabet (induk Google), Microsoft, dan Meta sama-sama menonjolkan proyeksi belanja modal 2026 untuk berinvestasi di AI. Melansir dari Business Insider, Senin, 9 Februari 2026, totalnya diperkirakan mencapai US$600 miliar atau sekitar Rp10.080 triliun.

img_title iPhone 18 Pro dan Pro Max Jadi Perbincangan Gegara Fitur Ini

Amazon sendiri berencana menggelontorkan US$200 miliar atau sekitar Rp3.360 triliun pada 2026, naik lebih dari 50 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini juga sekitar US$50 miliar di atas perkiraan analis. 

Kemudian, Alphabet merencanakan belanja modal US$175–185 miliar atau sekitar Rp2.940–3.108 triliun pada 2026, dua kali lipat dari sebelumnya selama dua tahun berturut-turut.

img_title Buntut Fenomena AI Gantikan Pekerja, Raksasa Ritel Ini PHK 3.000 Karyawan

Kenaikan ini didorong lonjakan penggunaan model AI Gemini yang telah menembus 750 juta pengguna aktif bulanan.

Lalu, ada Meta yang telah menyiapkan belanja modal US$115–135 miliar atau sekitar Rp1.932–2.268 triliun. Perusahaan sempat mendapat respons positif karena bisnis iklannya kuat, dengan pendapatan kuartalan US$58,14 miliar atau sekitar Rp976 triliun, termasuk kontribusi alat iklan berbasis AI, namun, antusiasme pasar mulai memudar.

Terakhir yaitu Microsoft, yang mencatat belanja modal US$37,5 miliar hanya dalam satu kuartal fiskal. Estimasi tahunan sekitar US$97,7 miliar atau Rp1.641 triliun.

Bisnis komputasi awan Microsoft sangat bergantung pada OpenAI, yang menyumbang 45 persen pesanan tertunda perusahaan. Hal ini membuat investor sensitif, meski pendapatan total naik 17 persen dan unit cloud tumbuh 39 persen. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Belanja besar-besaran ini menandai babak baru ekonomi digital, di mana pusat data dan chip AI menjadi fondasi utama. Namun, pasar kini menuntut bukti nyata. Tanpa hasil keuangan yang jelas, investasi ribuan triliun rupiah ini bisa berubah dari peluang emas menjadi risiko besar.

"Investor membutuhkan lebih dari sekadar janji untuk mendukung cerita ini," ungkap Analis Bernstein, Mark Shmulik.

Ilustrasi robot dan manusia bekerja bersama

Perusahaan Raksasa AI Buka Kantor di Negara Tetangga RI, Intip Lowongan Kerjanya!

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) mendorong pemerintah dan perusahaan teknologi memperkuat kerja sama untuk mengantisipasi risiko sekaligus mengatur pemanfaatannya.

img_title
VIVA.co.id
15 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut