Konflik Iran bikin Perusahaan Minyak AS Cuan Besar

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sumber :
  • CNBC Internasional

Jakarta, VIVA - Amerika Serikat (AS) akan menjadi salah satu penerima manfaat terbesar dari kenaikan harga minyak mentah global akibat perang AS-Israel melawan Iran, demikian laporan Financial Times, mengutip perkiraan yang diberikan oleh bank investasi Jefferies, Senin, 16 Maret 2026.

img_title Mehrdad Akhlaqi Ketabchi Jadi Menteri Pertahanan Baru Iran, Langsung Peringatkan Trump

Harga minyak mentah telah melonjak melewati US$100 (Rp1,7 juta) per barel akibat dampak dari perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika harga tetap tinggi tahun ini, perusahaan-perusahaan energi AS akan menerima peningkatan pendapatan sebesar US$63,4 miliar dari produksi minyak, menurut perusahaan riset energi Rystad.

img_title Trump Kembali Disorot karena Retorika soal Muslim, Kini Ejek Nama 'Mohammad'

Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik lebih dari 30 persen pada pekan lalu, bahkan sempat mencapai lebih dari US$119 (Rp2 jutaan) per barel, seiring meningkatnya kekhawatiran akan gangguan berkepanjangan terhadap pasokan energi global.

Presiden AS Donald Trump menggunakan kesempatan itu untuk mengalihkan fokus dari upaya menjaga harga energi tetap rendah ke upaya menggambarkan harga minyak yang tinggi sebagai hal yang positif.

img_title Arab Saudi Sebut Iran Dalang di Balik Serangan Houthi

“Amerika Serikat adalah produsen minyak terbesar di dunia, jauh di atas negara lain, jadi ketika harga minyak naik, kita menghasilkan banyak uang,” katanya dalam sebuah unggahan di Truth Social.

Perubahan sikap mendadak ini terjadi ketika tim Trump menghadapi tantangan dalam menyajikan rencana yang koheren untuk membuka kembali Selat Hormuz yang vital bagi kapal-kapal AS.

Otoritas Iran mengklaim bahwa Selat Hormuz tertutup bagi kapal-kapal AS dan Israel, meskipun tidak ditutup secara fisik dengan penghalang permanen.

Namun, menurut The Guardian, lebih dari 1.000 kapal kargo, terutama kapal tanker minyak dan gas, telah diblokir untuk melintasi selat tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jika tetap ditutup hingga akhir bulan, beberapa analis memperkirakan harga minyak mentah bisa melonjak hingga US$150 (Rp2,5 juta) atau bahkan US$200 (Rp3,4 juta) per barel, tulis The Economist.

Kenaikan harga minyak mentah memberikan tekanan pada perekonomian AS, karena harga bensin dan bahan bakar diesel, serta banyak barang dan jasa lainnya, telah meningkat di negara tersebut, demikian menurut The Wall Street Journal.

Ilustrasi Selat Hormuz.

Garda Revolusi Sebut Kapal Supertanker Kembali Terbakar Setelah Hantam Ranjau di Selat Hormuz

Sebuah kapal tanker minyak terbakar setelah menghantam ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz, kepastian kabar tersebut disampaikan Angkatan Laut Korps Garda Revolus

img_title
VIVA.co.id
19 Oktober 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut