Harga Energi Naik, IMF Malah Minta Subsidi BBM Dihentikan, Ada Apa?

Ilustrasi bahan bakar kendaraan.
Sumber :
  • Honda Community

Jakarta, VIVA – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan negara-negara agar tidak mengandalkan subsidi bahan bakar secara luas untuk meredam lonjakan harga energi global. Kebijakan tersebut dinilai berisiko memperburuk kondisi fiskal dan memicu tekanan ekonomi yang lebih besar dalam jangka panjang.

img_title Harga Minyak Dunia Tembus US$92 per Barel, Bahlil Pastikan BBM Subsidi Tak Naik sampai Akhir 2026

Dalam laporan Fiscal Monitor terbaru, IMF menyoroti bahwa lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik telah mendorong banyak negara mencari cara cepat untuk melindungi daya beli masyarakat. Namun, subsidi energi dinilai bukan solusi yang tepat jika diterapkan secara menyeluruh.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kepala urusan fiskal IMF, Rodrigo Valdes, menegaskan bahwa negara sebaiknya menghindari subsidi BBM secara luas dan memilih pendekatan yang lebih terarah, seperti bantuan tunai sementara kepada kelompok rentan.

img_title Suzuki Thunder 125 Jadi Sorotan di SPBU, Petugas Diminta Tak Layani Motor Ini

“Kami tidak punya cukup minyak. Kami tidak punya cukup energi. Energi memang perlu menjadi lebih mahal bagi semua orang, agar penyesuaian terjadi dan konsumsi bisa menurun,” ujar Valdes, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis, 16 April 2026.

Menurutnya, harga energi yang tinggi justru menjadi sinyal penting bagi pasar agar permintaan bisa menyesuaikan dengan kondisi pasokan. Jika pemerintah menahan harga melalui subsidi besar-besaran, sinyal tersebut menjadi tidak efektif.

img_title Antrean BBM di Malang hingga Jember Mengular, ESDM Janji Beres dalam 2 Hari

“Jika harga ditekan, maka harga global justru bisa menjadi lebih tinggi. Sangat penting untuk memberikan sinyal harga agar permintaan bisa menyesuaikan,” tambahnya.

IMF juga mencatat bahwa kondisi fiskal global saat ini sudah dalam tekanan. Utang pemerintah dunia mencapai 93,9 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada 2025 dan diperkirakan terus meningkat hingga mendekati 100 persen dalam beberapa tahun ke depan. Dalam skenario yang lebih buruk, angka tersebut bahkan bisa menembus 121 persen.

Selain itu, beban pembayaran bunga utang juga meningkat tajam hingga hampir 3 persen dari PDB global. Hal ini menunjukkan ruang fiskal banyak negara semakin terbatas, sehingga kebijakan yang berpotensi menambah beban anggaran perlu dipertimbangkan secara hati-hati.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Deputi direktur urusan fiskal IMF, Era Dabla-Norris, menyebut respons negara-negara terhadap lonjakan harga energi kali ini relatif lebih terkendali dibandingkan krisis sebelumnya.

“Negara-negara tidak serta-merta mengeluarkan paket besar. Dalam kondisi ruang fiskal yang terbatas dan banyaknya pilihan kebijakan, pendekatan yang lebih disiplin menjadi yang kami dorong,” ujarnya.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut