Harga Rumah Tumbuh Melambat di 2026, Sinyal Properti Lesu?

Ilustrasi properti.
Sumber :
  • Dokumentasi Bank BTN

Jakarta, VIVA – Pasar properti residensial mulai menunjukkan tanda perlambatan pada awal 2026. Di tengah tingginya kebutuhan hunian dan masih dominannya pembelian rumah melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pertumbuhan harga rumah justru melandai.

img_title 10 Ide Base Minecraft Survival yang Bikin Petualangan Makin Seru, dari Rumah Gua hingga Pulau Jamur

Sementara itu, penjualan properti anjlok cukup dalam. Kondisi ini memunculkan pertanyaan baru, apakah sektor properti nasional tengah memasuki fase lesu?

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) triwulan I 2026 yang dirilis Bank Indonesia, harga properti residensial di pasar primer hanya tumbuh terbatas. 

img_title Anggota TNI AL Diduga Bunuh Istri di Mataram, Danlanal Ungkap Motifnya

“Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2026 tumbuh sebesar 0,62 persen (yoy), sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan IV 2025 sebesar 0,83 persen (yoy),” tulis laporan tersebut, sebagaimana dikutip pada Senin, 11 Mei 2026.

Perlambatan terjadi hampir di seluruh tipe rumah. Harga rumah tipe menengah tumbuh 0,88 persen secara tahunan, melambat dari sebelumnya 1,12 persen. Sementara rumah tipe besar hanya naik 0,50 persen, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 0,72 persen. 

img_title AC Inverter vs AC Biasa, Apa Perbedaan Teknologi Pendinginnya dan Dampaknya pada Listrik?

Adapun rumah tipe kecil tumbuh 0,61 persen, turun dari 0,76 persen pada akhir 2025. Secara spasial, perlambatan juga terjadi di berbagai kota besar. Dari 18 kota yang disurvei, sebanyak 10 kota mengalami perlambatan pertumbuhan harga dan tiga kota bahkan mencatatkan penurunan harga rumah secara tahunan. 

Salah satu penurunan terdalam terjadi di Surabaya yang mencatat kontraksi harga sebesar 0,27 persen (yoy), lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya yang minus 0,04 persen.

Tak hanya harga, penjualan properti residensial juga mengalami tekanan signifikan. “Secara keseluruhan, penjualan properti residensial di pasar primer terkontraksi sebesar 25,67 persen (yoy), setelah tumbuh sebesar 7,83 persen (yoy) pada triwulan IV 2025,” ungkap laporan tersebut.

Penurunan terbesar terjadi pada penjualan rumah tipe kecil yang terkontraksi hingga 45,59 persen secara tahunan. Padahal pada triwulan sebelumnya, segmen ini masih mampu tumbuh 17,32 persen. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Di sisi lain, penjualan rumah tipe menengah justru mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 8,28 persen, sedangkan rumah tipe besar masih minus 8,03 persen.

Secara triwulanan, penjualan rumah juga mengalami kontraksi 7,69 persen dibandingkan kuartal sebelumnya. Penjualan rumah tipe besar turun paling dalam sebesar 20,38 persen, diikuti rumah tipe menengah yang turun 10,72 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut