Rupiah Diyakini Masih Bisa Kembali Menguat, Ini Syaratnya

Rupiah melemah terhadap dolar AS.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU/aa

Jakarta, VIVA – Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian meyakini, nilai tukar rupiah memiliki ruang rebound yang cukup besar, apabila bauran kebijakan (policy mix) membaik serta pembagian beban (burden sharing) yang seimbang antara fiskal dan moneter.

img_title Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Tembus Rp8,3 Juta, Ini Sumber Dananya

Dia memperkirakan, potensi penguatan kembali rupiah bisa mencapai level Rp 16.800-Rp 17.000 per dolar, AS jika koordinasi fiskal dan moneter solid.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Level rupiah saat ini menurut saya terlalu lemah dibanding kapasitas ekonomi Indonesia sebenarnya,” kata Fakhrul dalam keterangannya, Kamis, 28 Mei 2026.

img_title Rupiah Perkasa ke Rp17.882, Pasar Mulai Pangkas Ekspektasi Kenaikan Bunga The Fed

Ilustrasi mata uang Rupiah.

Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Dia berpendapat, stabilisasi rupiah tidak bisa hanya dibebankan kepada Bank Indonesia (BI), sehingga dibutuhkan keseimbangan bauran kebijakan antara fiskal dan moneter.

img_title AS-Iran Memanas, Rupiah Terancam Tembus Rp18.000 per Dolar AS

Fakhrul mencatat, pasar mencermati konsistensi arah kebijakan pemerintah dan BI. Oleh sebab itu, koordinasi kebijakan dipandang sangat penting di tengah tekanan global yang besar.

“Kalau BI sudah mengetatkan kebijakan, tetapi fiscal stance dan komunikasi kebijakan belum sinkron, maka tekanan terhadap rupiah tetap besar,” ujarnya.

Belum lama ini, BI telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 50 basis poin (bps) ke level 5,25 persen. Menurut Fakhrul, keputusan bank sentral tersebut penting untuk memulihkan kredibilitas dan menjaga anchor pasar.

Langkah tersebut menurutnya juga penting, agar pasar melihat bahwa BI serius menjaga stabilitas rupiah dan inflasi jangka menengah.

“BI mulai kembali ke pendekatan pre-emptive, front loading, dan ahead the curve seperti era 2018,” kata Fakhrul.

Di sisi lain, fiscal stance Indonesia juga harus mulai menyesuaikan diri dengan realitas global yang baru. Dia menilai, saat ini dunia memasuki era inflasi struktural yang lebih tinggi, fragmentasi geopolitik, biaya energi yang mahal, serta supply chain yang lebih kompleks.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fakhrul mengingatkan, pasar obligasi sangat sensitif terhadap persepsi arah fiskal. Jika investor mulai khawatir terhadap pembiayaan APBN, stabilitas eksternal, dan arah subsidi, maka yield obligasi akan naik karena premi risiko meningkat. Menurutnya, struktur suku bunga domestik saat ini juga belum sepenuhnya sehat.

Suku bunga SRBI yang tinggi dinilai efektif menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek. Namun, jika bertahan terlalu lama, kondisi tersebut dinilai berisiko menyedot likuiditas ke instrumen moneter, meningkatkan biaya dana, dan menghambat kredit ke sektor produktif.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut